HALLO!!

HALLO!!

Selasa, 21 Oktober 2014

KEBUDAYAAN

  1. Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.

  • Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic.


  • Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.


  • Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.


  • Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.



Dapat di peroleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.


Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

Tokoh-tokoh kebudayaan Indonesia:

Katakanlah, misalnya, jika kita bicara kebudayaan di Indonesia, maka tokoh-tokoh yang dimunculkan adalah tokoh-tokoh sastra; seperti W.S Rendra sendiri, Sutan Takdir Alisjahbana, H.B. Jassin, Taufik Ismail, Pramoedya Ananta Toer, Goenawan Mohammad, Kuntowijoyo sampai Radhar Panca Dahana. Kebudayaan di situ mengacu pada sastra sebagaiweltanschaung yang direpresentasi para tokoh-tokoh dan penggiatnya. Sedangkan semestinya, ada deferensiasi dan kategorisasi antara keduanya, karena sebenarnya masing-masing memiliki perbedaan yang cukup penting baik secara peristilahan maupun praktik. Sastra memiliki keterbatasan, yang pada intinya hanya bermediumkan teks. Sedangkan sebaliknya, kebudayaan mencakup persoalan yang luas, yang pada tingkatan makro seperti definisi peristilahannya, yaitu dari kata-kata budi dan daya, berarti kearifan dan keinsyafan manusia untuk berkreasi atau mencipta sesuatu karya.

Persoalan substansial yang menyebabkan campur-aduknya kebudayaan dan sastra di Indonesia, dikarenakan konsep kebudayaan “tak pernah lari” dari teks. Atau yang terjadi di Indonesia selama ini, kebudayaan selalu “dilarikan ke dunia teks”. Di sinilah letak persoalan itu bermula. Teks dan kebudayaan berjalan-berkelindan, seakan-akan antara keduanya tak memiliki batas-batas perbedaan yang penting.

Teks selalu menjangkau dan merengkuh kebudayaan. Aktualisasi nilai-nilai kebudayaan rasanya kurang dapat dinikmati jika tanpa dibarengi dengan medium teks. Nilai-nilai dan dimensi etika-estetika dari kebudayaan mesti tampil dalam teks, jika ingin terpublikasi secara luas. Di situ, conflict of interest bermain, atau mungkin karena kebudayaan selalu terdeterminasi kepada teks. Ia merupakan medium yang dapat mengabstraksikan secara “virtual” dalam imajinasi alam idea manusia, meskipun dunia kebudayaan di situ tak secara detail terakomodasi dalam teks. Karena ada sisi-sisi etika-estetika kebudayaan yang tak dapat terakomodasi hanya melalui pengalaman-pengalaman pembacaan terhadap medium teks. Sedangkan idealnya etika-estetika kebudayaan mesti terhayati dari mulai melihat dan merasakannya secara langsung, tanpa melalui medium teks.

Teks merupakan refleksi dari kebudayaan, dimana pengalaman seperti itu bisa dijumpai dalam karya-karya W.S Rendra, misalnya, dalam karya puisi maupun sajaknya. Hal itu terjadi karena kebudayaan merupakan ilham dari teks, ilham lazimnya datang dari nilai-nilai kebudayaan yang kemudian nilai-nilainya tersumbat dalam nalar manusia lalu kemudian diaktualisasikan dalam medium teks. Di situ, teks tak akan pernah berbicara tanpa adanya ilham, berarti teks akan mati tanpa kebudayaan

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya dan http://andreaniayupuspaningtyas.blogspot.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar