HALLO!!

HALLO!!

Selasa, 04 April 2017

TUGAS PSIKOTERAPI

TEKNIK-TEKNIK TERAPI BEHAVIOR

Lesmana (dalam Lubis,2011) Membagi teknik terapi behavioristik dalam dua bagian, yaitu teknik-teknik tingkah laku umum dan teknik-teknik spesifik.


Teknik-Teknik Tingkah laku Umum


teknik ini terdiri dari bebrapa bentuk diantaranya adalah :
  1. Skedul penguatan adalah suatu teknik pemberian penguatan pada klien ketika tingkah laku yang baru selesai dipelajari dimunculkan oleh klien. Penguatan harus dilakukan terus-menerus sampai tingkah laku tersebut terbentuk dalam diri klien. Setelah terbentuk, frekuensi penguatan dapat dikurangi atau dilakukan pada saat-saat tertentu saja (tidak setiap kali perilaku baru dilakukan). Istilah ini sering disebut sebagai penguatan intermiten. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan tingkah laku baru yang telah terbentuk. Misalnya, klien yang mengalami kesulitan membaca akan diberikan pujian secara terus-menerus bila berhasil membaca. Tetapi setelah ia dapat membaca, pemberian pujian harus dikurangi.
  2. Shaping adalah teknik terapi yang dilakukan dengan mempelajari tingkah laku baru secara bertahap. Terapis dapat membagi-bagi tingkah laku yang ingin dicapai dalam beberapa unit, kemudian mempelajarinya dalam unit-unit kecil.
  3. Ekstingsi adalah teknik terapi berupa penghapusan penguatan agar tingkah laku maladaptif tidak berulang. Ini didasarkan pada pandangan bahwa individu tidak akan bersedia melakukan sesuatu apabila tidak mendapatkan keuntungan. Misalnya, seorang anak yang selalu menangis untuk mendapatkan yang diinginkannya. Terapis akan bertindak tidak memberi perhatian sehingga anak tersebut tidak akan menggunakan cara yang sama lagi untuk mendapatkan keinginannya.
Teknik-teknik Spesifik

teknik-teknik Spesifik ini meliputi

  1. Desentisasi Sistematik. Teknik ini adalah teknik yang paling sering digunakan. Teknik ini diarahkan kepada klien untuk menampilkan respons yang tidak konsisten dengan kecemasan. Desentisasi sistematik melibatkan teknik relaksasi di mana klien diminta untuk menggambarkan situasi yang paling menimbulkan kecemasan sampai titik di mana klien tidak merasa cemas. Selama relaksasi, klien diminta untuk rileks secara fisik dan mental. Teknik ini cocok untuk menangani kasus fobia, ketakutan menghadapi ujian, ketakutan secara umum, kecemasan neurotik, impotensi, dan frigiditas seksual. Selanjutnya, Wolpe (dalam Lubis, 2011) menyimpulkan bahwa ada tiga penyebab teknik desentisasi sistematik mengalami kegagalan, yaitu: (a) Klien mengalami kesulitan dalam relaksasi yang disebabkan karena komunikasi terapis dan klien yang tidak efektif atau karena hambatan ekstrem yang dialami klien. (b) Tingkatan yang menyesatkan atau tidak relevan, hal ini kemungkinan disebabkan karena penanganan tingkatan yang keliru. (c) Klien tidak mampu membayangkan
  2. Pelatihan Asertivitas.Teknik ini mengajarkan klien untuk membedakan tingkah laku agresif, pasif, dan asertif. Prosedur yang digunakan adalah permainan peran (role playing). Teknik ini dapat membantu klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan atau menegaskan diri di hadapan orang lain. Pelatihan asertif biasanya digunakan untuk kriteria klien sebagai berikut: (a) Tidak mampu mengungkapkan kemarahan atau perasaan tersinggung. (b) Menunjukkan kesopanan secara berlebihan dan selalu mendorong orang lain untuk mendahuluinya. (c) Memiliki kesulitan untuk mengatakan tidak. (d) Mengalami kesulitan mengungkapkan afeksi dan respons positif lainnya. (e) Merasa tidak memiliki hak untuk memiliki perasaan dan pikiran sendiri. Melalui teknik permainan peran, terapis akan memperlihatkan bagaimana kelemahan klien dalam situasi nyata. Kemudian klien akan diajarkan dan diberi penguatan untuk berani menegaskan diri di hadapan orang lain.
  3. Time-Out. Merupakan teknik aversif yang sangat ringan. Apabila tingkah laku yang tidak diharapkan muncul, maka klien akan dipisahkan darireinforcement positif. Time-out akan lebih efektif bila dilakukan dalam waktu yang relatif singkat. Misalnya lima menit. Contoh kasus: seorang anak yang senang memukul adiknya akan dimasukkan dalam kamar gelap selama lima menit bila terlihat melakukan tindakan tersebut, karena takut akan dimasukkan ke kamar gelap kembali, biasanya anak akan menghentikan tindakan yang salah tersebut.
  4. Implosion dan Flooding. Teknik implosion mengarahkan klien untuk membayangkan situasi stimulus yang mengancam secara berulang-ulang, karena dilakukan terus-menerus sementara konsekuensi yang menakutkan tidak terjadi, maka diharapkan kecemasan klien akan tereduksi atau terhapus. Menurut Stampfl (dalam Lubis, 2011). Terapiimplosion adalah teknik yang menantang pasien untuk "menatap mimpi-mimpi buruknya." Ia menambahkan bahwa teknik implosion sangat bagus digunakan untuk pasien gangguan jiwa yang berada di rumah sakit, klien neurotik, klien psikotik, dan fobia. Sementara itu menurut Corey (dalam Lubis, 2011) flooding merupakan teknik di mana terjadi pemunculan stimulus yang menghasilkan kecemasan secara berulang-ulang tanpa pemberian reinforcement. Klien akan membayangkan situasi dan terapis berusaha mempertahankan kecemasan klien tersebut.Flooding bersifat lebih ringan karena situasi yang menimbulkan kecemasan tidak menyebabkan konsekuensi yang parah.
Selain teknik-teknik yang telah dikemukakan diatas. Corey (dalam Lubis, 2011) menambahkan beberapa teknik yang juga diterapkan dalam terapi behavioristik. diantaranya adalah:
  1. Reinforcement positif. Adalah teknik yang digunakan melalui pemberian ganjaran segera setelah tingkah laku yang diharapkan muncul. Contoh: senyuman, persetujuan, pujian, bintang emas, medali, uang, dan hadiah lainnya. Pemberian reinforcement positif dilakukan agar klien dapat mempertahankan tingkah laku baru yang telah terbentuk.
  2. Modelling. Dalam teknik ini, klien dapat mengamati seseorang yang dijadikan modelnya untuk berperilaku kemudian diperkuat dengan mencontoh tingkah laku sang model. Dalam hal ini, terapis dapat bertindak sebagai model yang akan ditiru oleh klien .
  3. Token Economy. Teknik ini dapat diberikan apabila persetujuan dan penguatan lainnya tidak memberikan kemajuan pada tingkah laku klien. Metode ini menekankan penguatan yang dapat dilihat dan disentuh oleh klien (misalnya kepingan logam) yang dapat ditukar oleh klien dengan objek atau hak istimewa yang diinginkannya. Token economy dapat dijadikan pemikat oleh klien untuk mencapai sesuatu. Misalnya, pada anak pemalas, bila ia bersedia untuk menyapu rumahnya, ia akan diberi satu logam. Bila berhasil mengumpulkan 10 logam, anak tersebut akan dibelikan sepeda.
CONTOH VIDEO TERAPI BEHAVIOR



Dalam video ini Klien mengalamai gangguan OCD. Terapis menggunakan terapi behavior terapi implosion yaitu terapi yang dikembangkan atas dasar pandangan tentang seseorang yang secara berulang-ulang dihadapkan pada situasi kecemasan dan konsekuensi-konsekuensi yang menakutkan ternyata tidak muncul, maka kecemasan akan hilang. Atas dasar itu klien diminta untuk membayangkan stimulus-stimulus yang menimbulkan kecemasan. Kemudian klien diminta terapis untuk menyentuh daun kering dengan meyakinkan bahwa daun itu tidak kotor selanjutnya klien diminta untuk memegang putung rokok dan klien sudah mulai berhasil menyentuh barang yang menurutnya kotor.

TEKNIK-TEKNIK TERAPI HUMANISTIK



TERAPI EKSISTENSIAL-HUMANISTIK

Dasar dari terapi humanistik adalah penekanan pada keunikan setiap individu serta memusatkan perhatian pada kecenderungan alami dalam pertumbuhan dan perwujudan dirinya. Salah satu pendekatan yang dikenal dalam terapi humanistik ini adalah terapi yang berpusat kepada klien atau Client-Centered Therapy.

Menurut Atkinson dkk (dalam Riyanti & Prabowo, 1998) Client-Centered Therapy adalah terapi yang dikembangkan oleh Carl Rogers yang didasarkan kepada asumsi bahwa klien merupakan ahli yang paling baik bagi dirinya sendiri dan merupakan orang yang mampu untuk memecahkan masalahnya sendiri. Tugas terapis adalah mempermudah prose pemecahan masalah mereka sendiri. Terapis juga tidak mengajukan pertanyaan menyelidik, membuat penafsiran, atau menganjurkan serangkaian tindakan.

Menurut Rogers (dalam Semiun, 2006) terdapat enam syarat dalam proses terapi yang harus dipenuhi oleh terapis, yaitu :
  1. Terapis menghargai tanggungjawab pasien terhadap tingkah lakunya sendiri
  2. Terapis mengakui bahwa pasien dalam dirinya sendiri memiliki dorongan yang kuat untuk meggerakkan dirinya ke arah kematangan serta independensi, dan terapis menggunakan kekuatan ini.
  3. Menciptakan suasana hangat dan memberikan kebebasan yang penuh di mana pasien dapat mengungkapkan atau tidak mengungkapkan apa saja yang diinginkan.
  4. Membatasi tingkah laku pasien namun bukan sikap pasien
  5. Terapis membatasi kegiatannya untuk menunjukkan pemahaman dan penerimaannya terhadap emosi-emosi yang sedang diungkapkan pasien yang mungkin dilakukannya dengan memantulkan kembali dan menjelaskan perasaan-perasaan pasien
  6. Terapis tidak boleh bertanya, menyelidiki, menyalahkan, memberikan penafsiran, menasihatkan, mengajarkan, membujuk dan meyakinkan kembali.


Berikut ini adalah contoh video terapi humanistik menggunakan  Client-Centered Therapy


TEKNIK-TEKNIK TERAPI PSIKOANALISIS
  • Asosiasi Bebas
Dalam teknik ini klien diminta untuk duduk santai atau tidur lalu menceritakan semua pengalaman yang terlintas dalam benaknya baik yang teratur maupun yang tidak, sepele atau penting, logis atau tidak logis, relevan atau tidak, semuanya harus diungkapkan. Asosiasi-asosiasi yang diucapkan itu kemudian ditafsirkan sebagai pengungkapan tersamar pengalaman-pengalaman yang direpres.
Tidak diketahui dengan tepat kapan Feud menemukan teknik asosiasi bebas. Namun, teknik ini berkembang secara berangsur-angsur antara tahun 1892-1896 dengan menyaring teknik hipnosis dan sugesti disertai dengan menekan dan menanyai pasien. Isyarat adanya asosiasi bebas telah disinggung pada tahun 1889 pada salah satu kasus yang ditanganin oleh Freud yaitu kasus Emmy von N. Jones (dalam, Semiun 2006) mengemukakan suatu kejadian historis dimana Freud menekan dan menanyai Elisabeth von R., dan ia mencela Freud karena mengganggu arus pikirannya. Freud dengan rendah hati menerima apa yang disampaikan Elisabeth von R. Setelah itu metode asosiasi bebas digunakan seterusnya karena menjadi metode yang memuaskan sebab memberikan kemungkinan pada pikiran-pikiran pasien yang tidak terkendali untuk memasuki situasi perawatan. 
  • Analisis Mimpi
Freud memandang mimpi sebagai jalan utama menuju ke alam tak sadar karena isi mimpi ditentukan oleh keinginan-keinginan yang direpres. Keinginan-keinginan itu muncul lagi dalam bentuk simbol sebagai jalan menuju pemuasan. Berawal dari ketidakpuasan Freud terhadap metode terapeutik konvensional yaitu, perangsangan listrik, hidroterapi, pijat dan sebagainya, kemudian Freud beralih menggunakan hipnosis untuk tujuan katarsis. Pendekatan terapeutiknya adalah menghipnosis pasien dan menyuruhnya berbicara tentang asal mula dari setiap simtomnya. Ia menanyakan apa yang menakutkan pasien ketika peristiwa itu terjadi, dan sebagainya. Pasien menjawab dengan mengemukakan serangkaian ingatan yang sering dibarengi oleh afek yang hebat. Pada akhir sesi tertentu, Freud mengemukakan bahwa pasien melupakan ingatan-ingatan menggelisahkan yang telah muncul.
Pada tahun 1892, Freud menyadari bahwa kemampuannya untuk menghipnosis pasien sangat terbatas, dan ia harus menghadapi pilihan, yakni membuang perawatan dengan metode katarsis atau tetap memakainya walaupun pasien tidak mencapai keadaan somnambulistik. Freud memilih pendekatan kedua, dan untuk membenarkan pendekatan ini ia ingat akan Bernheim yang telah memperlihatkan bahwa pasien-pasien dapat dibuat untuk mengingat peristiwa yang telah dilupakan dengan menggunakan teknik sugesti walaupun pasien tetap terjaga.
Freud tetap menggunakan asumsi bahwa pasien-pasiennya mengetahui segala sesuatu yang bermakna patogenik dan tugas analis adalah  meminta  mereka untuk menyampaikannya. Ia meminta pasiennya berbaring, menutup mata, dan berkonsentrasi. Pada saat tertentu, ia akan menekan dahi mereka dan menegaskan bahwa ingatan-ingatan akan muncul. Elisabeth von R. Adalah pasien pertama yang dirawat Freud dengan sugesti. Pada tahun 1896, Freud membuang hipnosis dan tidak jelas kapan ia tidak lagi menggunakan sugesti sebagai sarana terapeutiknya yang utama. Kemudian di tahun yang sama Freud menyelesaikan karyanya yang sangat penting, yakni The Interpretation of Dreams, meskipun tidak dipublikasikan sebelum tahun 1900. Tampaknya masuk akal bila dikatakan bahwa kemampuan untuk memahami struktur dan arti mimpi telah meningkatkan keterampilannya dalam interpretasi. Akibatnya, Freud semakin sadar pada produksi bahan pasien yang dilakukan secara spontan. Ia dapat menggunakan interpretasi-interpretasi untuk sampai pada ingatan yang direpresikan.
 Penafsiran atau Interpretasi
Penafsiran merupakan prosedur dasar di dalam menganalisis asosiasi bebas, mimpi-mimpi, resitensi dan transferensi. Caranya dengan tindakan-tindakan terapis untuk menyatakan, menerangkan dan mengajarkan klien makna-makna tingkah laku apa yang dimanifestasikan dalam mimpi, asosiasi bebas, resistensi dan hubungan terapeutik itu sendiri.
Fungsi penafsiran adalah mendorong ego untuk mengasimilasi bahan-bahan baru dan mempercepat proses pengungkapan alam bawah sadar secara lebih lanjut. Penafsiran yang diberikan oleh terapis menyebabkan adanya pemahaman dan tidak terhalanginya alam bawah sadar pada diri klien.
 Analisis Resistensi
Resistensi adalah sesuatu yang melawan kelangsungan terapi dan mencegah klien mengemukakan bahan yang tidak disadari. Selama asosiasi bebas dan analisis mimpi, klien dapat menunjukkan ketidaksediaan untuk menghubungkan pikiran, perasaan dan pengalaman tertentu. Freud memandang bahwa resistensi sebagai dinamika tak sadar yang digunakan oleh klien sebagai pertahanan terhadap kecemasan yang tidak bisa dibiarkan, yang akan meningkat jika klien menjadi sadar atas dorongan atau perasaan yang direpress tersebut. Dalam tingkat tertentu, resistensi itu ada dari awal sampai akhir perawatan. Resistensi mempertahankan status quo neurosis pasien. Resistensi menentang analis, pekerjaan analitik, dan ego rasional pasien. Resistensi adalah suatu konsep operasional, bukan sesuatu yang baru diciptakan analis. Situasi analitik menjadi arena di mana resistensi-resistensi itu mengungkapkan dirinya. Resistensi merupakan pengulangan semua operasi defensive yang telah digunakan pasien dalam kehidupan masa lampaunya. Semua variasi gejala psikis mungkin digunakan untuk tujuan resistensi dan resistensi itu beroperasi melalui ego pasien. Meskipun beberapa aspek dari suatu resistensi mungkin sadar, namun suatu bagian yang penting diadakan oleh ego tak sadar.
Ciri terapi psikoanalisis adalah menganalisis resistensi dengan teliti dan sistematis, sedangkan tugas psikoanalisis tidak lain adalah mengungkapkan bagaimana pasien menentang, apa yang ditentang, dan mengapa ia menentang. Penyebab langsung dari resistensi adalah selalu menghindari suatu efek yang menyakitkan, seperti kecemasan, rasa bersalah, atau malu. Di balik motif ini akan ditemukan suatu impuls instingtual yang telah memicu efek yang menyakitkan itu. Pada akhirnya orang akan menemukan bahwa penyebabnya adalah ketakutan terhadap suatu keadaan traumatic yang coba dihindari oleh resistensi.
Ada banyak cara mengklasifikasikan resistensi. Cara praktis yang sangat penting ialah membedakan resistensi egosyntonic dan ego-alien. Apabila seorang pasien merasa bahwa suatu resistensi asing baginya, maka ia siap mengerjakannya secara analitik. Bila resistensi itu adalah ego-syntonic, ia mungkin menyangkal adanya, meremehkan maknanya, atau merasionalisasikannya. Salah satu langkah awal yang sangat penting dalam menganalisis suatu resistensi adalah memasukkannya ke dalam resistensi ego-alien pasien. Segera setelah ini dicapai, pasien akan membentuk suatu aliansi kerja dengan analisi. Ia akan mengidentifikasikan dirinya untuk sementara dan secara parsial dengan analis karena ia rela mengerjakan resistensi-resistensi itu secara analitik.
Bentuk-bentuk psikoterapi lain berusaha menyingkirkan atau mengatasi resistensi-resistensi dengan sugesti, menggunakan obat, atau memanfaatkan hubungan transferensi. Dalam terapi-terapi, yang disebut covering up atau supportive therapies, terapis berusaha memperkuat resistensi-resistensi. Ini mungkin perlu bagi pasien-pasien yang mengalami keadaan psikotik. Hanya dalam psikoanalisis terapis berusaha menemukan penyebab, tujuan, cara dan sejarah resistensi-resistensi tersebut.
Analisis Transferensi
Resistensi dan transferensi merupakan dua hal inti dalam terapi psikoanalisis. Transference dalam arti sebenarnya adalah suatu bentuk ingatan dari kejadian-kejadian yang telah dialami dan yang diulang kembali dalam keadaan sekarang atau yang akan datang (Gunarsa, 2001). Analisis transferensi terjadi kalau dalam pertemuan terapi terungkap adanya dispalcement dalam diri pasien. Hal itu terjadi kalau pasien mengalihkan sasaran perasaan cinta atau bencinya kepada terapis yang menanganinya. Transferensi itu menunjukkan kebutuhan pasien untuk mengekspresikan kebutuhannya. Semua ini berlangsung secara tidak sadar, terapis sering jadi sasaran atau pengganti. Di sini terapis berusaha untuk menjelaskan perasaan-perasaan yang sedang dialami atau yang diekspresikannya pada terapis, sehingga pasien memiliki satu pemahaman yang lengkap mengenai kesulitan yang sedang dialami. Situasi transferensi penting untuk psikoanalisis. Perasaan transferensi diperoleh terapis dan hanya dipindahkan kepadanya dari pengalaman pasien sebelumnya, biasanya pengalaman dengan orang tuanya. Dengan kata lain, perasaan pasien terhadap analis adalah sama dengan perasaan sebelumnya terhadap salah satu atau kedua orang tua.

Contoh video terapi psikoanalisis


Dalam contoh video klien memiliki masalah yang sulit untuk diceritakan, klien merasa bingung harus mulai cerita dari mana kemudian terapis menyarankan menggunakan terapi asosiasi bebas agar klien lebih rileks. Terapi asosiasi bebas memiliki ciri khas yaitu dengan mempersilahkan klien berbaring di atas balai-balai sementara terapis duduk dibelakangnya, sehingga tidak mengalihkan perhatian klien pada saat-saat asosiasinya mengalir dengan bebas. Asosiasi bebas merupakan metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lalu dan pelepasan emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi traumatik di masa lalu.


DAFTAR PUSTAKA

Lubis, Lumongga Namora. (2011). Memahami Dasar-Dasar Konseling dalam Teori dan        Praktik. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Riyanti, B.P.D & Prabowo, H. (1998). Psikologi umum 2. Jakarta: Gunadarma.

Semiun, Y. (2006). Kesehatan mental. Yogyakarta: kanisius

Semiun, Y. (2006). Teori kepribadian dan terapi psikoanalitik freud. Jakarta: Kanisius

Gunarsa, Prof. Dr. Singgih D. (2002). Konseling dan terapi. Jakarta: Gunung Mulia.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar