Nama :
Waode Anggi Pratiwi
NPM :
1C514182
Kelas : 3PA02
DEFINISI KEPEMIMPINAN menurut
para ahli:
McFarlan (1978) mendefinisikan
kepemimpinan sebagai suatu proses dimana pimpinan dilukiskan akan memberi
perintah atau pengaruh, bimbingan atau proses mempengaruhi pekerjaan orang lain
dalam memilih dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Menurut Pfiffner
(1980) kepemimpinan adalah seni mengkoordinasi dan memberi arah kepada individu
atau kelompok untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
N. Copeland “Psychology
and the Soldier” Kepemimpinan adalah seni perlakuan terhadap manusia.
Ini adalah seni mempengaruhi sejumlah orang dengan persuasi atau dengan teladan
untuk mengikuti serangkaian tindakan.
William G. Scott (1962) Kepemimpinan ialah
proses mempengaruhi aktifitas yang diorganisir dalam suatu kelompok dalam
usahanya untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan.
G.L Feman dan E.K. taylor (1950) kepemimpinan merupakan suatu kemampuan untuk menciptakan aktifitas suatu kelompok untuk mencapai tujuan organisasi dengan efektifitas yang maksimal & kerjasama tiap individu
Jadi, Kepemimpinan adalah proses memengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi.
G.L Feman dan E.K. taylor (1950) kepemimpinan merupakan suatu kemampuan untuk menciptakan aktifitas suatu kelompok untuk mencapai tujuan organisasi dengan efektifitas yang maksimal & kerjasama tiap individu
Jadi, Kepemimpinan adalah proses memengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi.
JENIS KEPEMIMPINAN
Banyak teori yang
mengungkapkan tentang kepemimpinan, sehingga muncul banyak jenis-jenis
kepemimpinan yang dipahami dan juga diterapkan pada saat ini.Semua jenis
kepemimpinan juga memiliki kekurangan dan kelebihan sehingga dalam penerapannya
perlu memperhatikan banyak hal. Pada bab ini akan membahas 6 jenis atau model
kepemimpinan yang ada. Yaitu: Koersif, otoritatif, afiliatif,
demokratis,pecesetting, dan coaching yang tentunya memiliki kekurangan dan
kelebihan masing masing.
1.
Koersif
Jenis kepemimpinan ini bisa juga disebut
dengan kepemimpinan otoriter. Pada jenis ini seorang pemimpin akan memerintah
sesuai dengan kehendaknya sendiri tanpa ada orang yang boleh membantah semua
perintahnya. Menurut pendapatnya seorang bawahan hanya akan bekerja jika
diperintah. Selain itu pemimpin sudah menetukan ketentuan dari awal sehingga
pada saat pelaksanaan tidak ada rencana atau usulan dari bawahannya. Pemimpin
menjalankan semuannya sesuai dengan kehendak hati sang pemimpin sehingga
bawahan hanya tinggal menjalankan apa saja tugasnya.
Kelebihan dari tipe ini adalah ketika
sebuah organisasi atau kelompok membutuhkan pengambilan keputusan secara
mendadak dengan cepat dan tepat. Pengambilan keputusan akan difikirkan secara
matang tanpa dipengaruri oleh orang lain. Selain itu saat pengambilan keputusan
tidak perlu dengan adanya diskusi atau rapat dan terjadi perdebatan dari
berbagai pihak yang hanya akan membuat keputusan tidak segera diambil. Sehingga
pengambilan keputusan akan lebih cepat dan tepat jika diambil oleh seorang
pemimpin saja. Selain itu pemimpin dengan jenis ini akan menumbuhkan sikap
disiplin dari anggota atau bawahannya.
Selain kelebihan jenis kepemimpinan ini
juga memiliki kekurangan. Yaitu ketika pelaksanaan tugas atau pelaksanaan
program-program yang direncanakan bawahan atau anggota kelompok tidak bisa
berfikir kreatif dan akan mudah bosan. Hal ini dikarenakan apa yang dikerjakan
sudah ditentukan oleh pemimpinnya dan bawahannya tidak boleh melakukan hal lain
yang tidak sesuai dengan ketentuan. Selain itu tidak akan ada perubahan pada
organisasi atau kelompok tersebut karena pemimpinnya sulit untuk menerima
perubahan dan usulan dari bawahan atau anggotanya.
2.
Otoritatif
Jenis pemimpin ini bukan jenis pemimpin
yang oteriter, akan tetapi pemimpin yang mendapatkan kekuasaan dengan
persetujuan dan kejelasan visi yang ia paparkan. Seorang pemimpinakan
menjadikan orang lain bergerak menuju sebuah visi yang sudah ditentukan dengan
bersemangat karena ia akan memberikan penghargaan yang pantas dan tujuan yang
jelas tidak hanya untuk jangka pendek tetapi juga untuk jangka panjang.
Pemimpin akan melakuakn perubahan-perubahan untuk mencapai visi dari organisasi
tersebut. Pemimpin jenis ini memiliki rasa percaya diri yang tinggi dan mudah
mempengaruhi orang lain untuk bekerja sama.
Otoratif juga memiliki kekurangan yaitu
saat organisasi yang dipimpinnya memerlukan keputusan yang cepat dan tepat
dalam keadaan yang mendesak. Pemimpin jenis ini akan terlalu lama menentukan
keputusan apa yang harus diambil. Selain itu pemimpin akan mengalami kesulitan
saat anggota atau bawahannya tidak setingkat dengannya. Maksudnya para anggota
atau bawahannya tidak mampu berfikir kreatif untuk sebuah perubahan. Selain itu
pemimpin akan mengalami kesulitan saat bersama dengan tim ahli. Pemimpin ini akan
dianggap terlalu angkuh atau sombong karena selalu berfikir kedepan dan
menganggap orang lain tidak memiliki kemampuan atau pengetahuan seperti
dirinya.
Kepemimpinan yang otoritatif juga
memiliki kelebihan yaitu ketika seorang pemimpin bertemu dengan anggota yang
sepadan. Maksudnya, anggota yang mampu diajak bekerjasama dan mampu membuat
perubahan-perubahan sesuai dengan kemajuan jaman.
3.
Afiliatif
Kepemimpinan yang afiliatif adalah seorang
pemimpin yang memberikan jalan bagi anggotanya untuk bertindak.Seorang pemimpin
mengedepankan kebahagiaan dari anggotnya. Setiap anggotanya memiliki kesempatan
yang sama dalam memberikan ide-ide untuk kemajuan dari organisasi. Pemimpin
akan sangat disenangi oleh semua bawahan atau anggotanya karena dalam
organisasi semua memiliki sifat terbuka.
Kelemahan dari teori ini adalah anggotanya
akan merasa ketergantungan kepada pemimpinnya, karena pemimpin selalu membantu dan
mengedepankan anggota atau bawahannya, pemimpin ibarat sebatang lilin yang rela
terbakar untuk menerangi sekelilinganya. Selain itu apabila seseorang yang
belum mengenal pemimpin tersebut akan menganggap remeh pemimpinnya, karena
seorang pemimpin selalu terbuka dengan masalah yang dihadapi dan meminta
pendapat dari bawahannya sehingga orang akan menanggap bahwa pemimpinnya tidak
memilii kemampuan yangn memadai.
Selain itu teori ini memiliki kelebihan
yaitu terjadi harmonisasi antara pemimpin dan bawahannya karena adanya
keterbukaan. Sehingga dalam mencapai tujuan organisasinya dapat saling bekerja
sama dengan baik.Kelebihan yang paling utama adalah para anggotanya merasa
senang karena pemimpin memprioritaskan semua kegiatan dan tujuannya pada
anggotanya.
4.
Demokatis
Kepemimpinan jenis ini mengedepankan
pendapat dari anggota untuk mengambil keputusan sehingga setiap masalah
diselesaikan dengan cara musyawarah dan mufakat. Kepemimpinan ini hampir sama
dengan kepemimpinan afiliatif akan tetapi perbedaannya adalah seorang pemimpin
tidak mengedepankan kebahagiaan dari anggotannya akan tetapi tujuan keterbukaan
adalah untuk saling faham satu sama lain sehingga bisa tercapai kerjasama.
Pemimpin akan mengambil keputusan sesuai dengan suara terbanyak dari anggota.
Kelemahan dari kepemimpinan jenis ini
adalah jika seorang pemimpin tidak dapat mengambil keputusan dengan tepat dan
terjadi kontra anatar anggota, selain itu apabila anggota tidak sefaham atau
memiliki carapandang yang berbeda dengan pemimpin sehingga pada saat
pengambilan keputusan tidak terjadi titik temu hanya saling berdebat satu sama
lain. Pengambilan keputusan juga tidak selalu sesuai karena suara terbanyak
belum tentu keputusan yang terbaik.Adakalanya suara terbanyak justru
menjerumuskan kehal-hal yang tidak baik.
Akan tetapi jenis kepemimpin ini juga
memiliki kelebihan yaitu terjadinya ketrebukaan antara anggota dan pemimpin
jadi semua masalah yang terjadi dalam organisasi diketahui oleh semua anggota
dan dapat turut menyelesaikan masalah tersebut. Sehingga pemimpin juga tidak
terlalu terbebani akan masalah yang dihadapi karena ditanggung bersama.
5.
Pacesetting
Jenis kepemimpinan ini menyatakan bahwa
seorang pemimpin membutuhkan atau menuntut kesempurnaan dari anggotanya.
Pemimpin membuat standar-standar yang harus dipenuhi oleh setiap anggotanya
agar tercapai apa yang diinginkan pemimpinnya. Seorang pemimpin akan mengambil
alih tugas dari anggotanya apabila apa yang dikerjakan tidak sesuai dengan
standar yang ia tetapkan. Pemimpin tidak segan-segan untuk mengganti anggota
dengan orang lain jika ia merasa tidak cocok atau tidak memenuhi standar.
Kelemahan dari jenis kepemimpinan ini
adalah jika angotanya adalah orang yang tidak suka berkembang atau sulit
memotivasi diri maka anggota merasa tidak dianggap oleh pemimpin dan menjadi
malas untuk mengerjakan tugasnya dan pada akhirnya hanya akan diganti dengan
yang lain.Pemimpin memiliki banyak pekerjaan karena mengontrol setiap kegiatan
dari anggotanya bahkan mengambil alih setiap pekerjaan yang tidak sesuai dengan
standarnya.
Kelebihan dari jenis ini adalah apa yang
dilakukan oleh anggota dari organisasi selalu sempurna. Karena sesuai dengan
standar yang ditentukan oleh pemimpin. Selain itu pemimpin jenis ini juga akan
sangat maju jika bertemu dengan anggota yang senang bekerja dan mampu membangun
motivasi dirinya. Sehingga anggotanya akan memenuhi standar yang sudah
ditetapkan oleh pemimpin jadi semua dapat selesai sesuai target.
6.
Coaching
Jenis kepemimpinan ini hampir sama dengan
kepemimpinan pacesetting karena pemimpin ini juga menuntut kesempurnaan dari
anggotanya. Akan tetapi jenis ini menetukan ketentuan yang berbeda-beda untuk
setiap orang.Pemimpin ini menuntut anggotanya untuk berkembang sesuai dengan
kemampuan dan bakat yang dimiliki masing-masing anggota. Karena pemimpin
berpendapat bahwa dengan berkembangnya anggota maka akan berkembang pula
organisasi yang dipimpinnya.
Kelemalan dari kepemimpinan jenis ini
adalah seorang pemimpin memerlukan waktu yang lama untuk mengembangkan
anggotannya satu-persatu karena setiap individu berbeda-beda sehingga perlu
diadakan pembicaraan secara langsung dengan anggota satu persatu. Selain itu
anggota yang malas akan merasa tertekan karena selalu dituntut untuk melakukan
hal-hal tertentu.
Selain kelemahan tentunya jenis
kepemimpinan ini juga memiliki kelebihan yaitu pemimpin akan mengenali semua
anggota yang ada dalam organisasinya. Hal ini juga dapat untuk menggali
kemampuan terpendam dari anggotanya dan juga memperbaiki kelemahan-kelemahan
dari anggotanya
Fungsi-Fungsi
Kepemimpinan
- Pengambilan
keputusan dan meralisasi keputusan itu
- Pendeglasian
wewenang dan pembagian kerja kepada pra bawahan.
- Meningkatkan
daya guna dan hasil guna semua unsur manajemen.
- Memotivasi
bawahan, agar bekerja dengan efektif dan bersemangat.
- Mengembangkan
Imajinasi, Kreativitas, dan loyalitas bawahan.
- Penilaian
prestasi dan pemberian teguran atau penghargaan kepada bawahan.
- Pemrakarsa,
penggiatan, dan pengendalian rencana.
- Mengkordinasi
dan mengintegrasi kegiatan-kegiatan bawahan.
- Pengembangan
bawahan melalui pendidikan atau pelatihan.
- Melaksanakan
pengawasan melekat dan perbutan-perbuatan perbaikan jika perlu.
- Menjaga
aktivitas-aktivitas perusahaan sesuai dengan izinnya.
- Mempertanggung
jawabkan semua tindakan kepada pemilik, karyawan, dan pemerintah.
- Membina
dan mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan.
- Pemberian,
ketenangan, kompensasi dan keselamatan bagi semua karyawan.
Unsur-Unsur
Kepemimpinan
- Pemimpin
(Leader) merupakan orang yang memimpin
- Bawahan
(Pengikut) merupakan orang-orang yang dipimpin.
- Organisasi
merupakan alat dan wadah untuk melakukan kepemimpinan
- Tujuan
(objective) merupakan sasaran yang ingin dicapai.
- Lingkungan
merupakan internal dan eksternal perusahaan.
Menurut beberapa kelompok sarjana (dalam
Kartono, 2003); Shinta (2002) membagi Tipe Kepemimpinan berbagai macam:
Macam – macam Tipe
Kepemimpinan:
a.
Tipe
Kepemimpinan Kharismatis
Tipe kepemimpinan karismatis memiliki kekuatan energi, daya
tarik dan pembawaan yang luar biasa untuk mempengaruhi orang lain, sehingga ia
mempunyai pengikut yang sangat besar jumlahnya dan pengawal-pengawal yang bisa
dipercaya. Kepemimpinan kharismatik dianggap memiliki kekuatan ghaib
(supernatural power) dan kemampuan-kemampuan yang superhuman, yang diperolehnya
sebagai karunia Yang Maha Kuasa. Kepemimpinan yang kharismatik memiliki
inspirasi, keberanian, dan berkeyakinan teguh pada pendirian sendiri. Totalitas
kepemimpinan kharismatik memancarkan pengaruh dan daya tarik yang amat besar.
b.
Tipe Kepemimpinan
Paternalistis/Maternalistik
Kepemimpinan paternalistik
lebih diidentikkan dengan kepemimpinan yang kebapakan dengan sifat-sifat
sebagai berikut: (1) mereka menganggap bawahannya sebagai manusia yang
tidak/belum dewasa, atau anak sendiri yang perlu dikembangkan, (2) mereka
bersikap terlalu melindungi, (3) mereka jarang memberikan kesempatan kepada
bawahan untuk mengambil keputusan sendiri, (4) mereka hampir tidak pernah
memberikan kesempatan kepada bawahan untuk berinisiatif, (5) mereka memberikan
atau hampir tidak pernah memberikan kesempatan pada pengikut atau bawahan untuk
mengembangkan imajinasi dan daya kreativitas mereka sendiri, (6) selalu
bersikap maha tahu dan maha benar.
Sedangkan tipe kepemimpinan
maternalistik tidak jauh beda dengan tipe kepemimpinan paternalistik, yang membedakan
adalah dalam kepemimpinan maternalistik terdapat sikap over-protective atau
terlalu melindungi yang sangat menonjol disertai kasih sayang yang berlebih
lebihan.
c. Tipe Kepemimpinan Militeristik
Tipe kepemimpinan militeristik ini sangat
mirip dengan tipe kepemimpinan otoriter. Adapun sifat-sifat dari tipe
kepemimpinan militeristik adalah: (1) lebih banyak menggunakan sistem
perintah/komando, keras dan sangat otoriter, kaku dan seringkali kurang
bijaksana, (2) menghendaki kepatuhan mutlak dari bawahan, (3) sangat menyenangi
formalitas, upacara-upacara ritual dan tanda-tanda kebesaran yang berlebihan,
(4) menuntut adanya disiplin yang keras dan kaku dari bawahannya, (5) tidak
menghendaki saran, usul, sugesti, dan kritikan-kritikan dari bawahannya, (6)
komunikasi hanya berlangsung searah.
d. Tipe Kepemimpinan Otokratis (Outhoritative, Dominator)
Kepemimpinan otokratis
memiliki ciri-ciri antara lain: (1) mendasarkan diri pada kekuasaan dan paksaan
mutlak yang harus dipatuhi, (2) pemimpinnya selalu berperan sebagai pemain
tunggal, (3) berambisi untuk merajai situasi, (4) setiap perintah dan kebijakan
selalu ditetapkan sendiri, (5) bawahan tidak pernah diberi informasi yang
mendetail tentang rencana dan tindakan yang akan dilakukan, (6) semua pujian
dan kritik terhadap segenap anak buah diberikan atas pertimbangan pribadi, (7)
adanya sikap eksklusivisme, (8) selalu ingin berkuasa secara absolut, (9) sikap
dan prinsipnya sangat konservatif, kuno, ketat dan kaku, (10) pemimpin ini akan
bersikap baik pada bawahan apabila mereka patuh.
e.
Tipe Kepemimpinan Laissez Faire
Pada tipe kepemimpinan ini praktis pemimpin tidak memimpin,
dia membiarkan kelompoknya dan setiap orang berbuat semaunya sendiri. Pemimpin
tidak berpartisipasi sedikit pun dalam kegiatan kelompoknya. Semua pekerjaan
dan tanggung jawab harus dilakukan oleh bawahannya sendiri. Pemimpin hanya
berfungsi sebagai simbol, tidak memiliki keterampilan teknis, tidak mempunyai
wibawa, tidak bisa mengontrol anak buah, tidak mampu melaksanakan koordinasi
kerja, tidak mampu menciptakan suasana kerja yang kooperatif. Kedudukan sebagai
pemimpin biasanya diperoleh dengan cara penyogokan, suapan atau karena sistem
nepotisme. Oleh karena itu organisasi yang dipimpinnya biasanya morat marit dan
kacau balau.
f. Tipe Kepemimpinan Populistis
Kepemimpinan populis berpegang teguh pada nilai-nilai
masyarakat yang tradisonal, tidak mempercayai dukungan kekuatan serta bantuan
hutang luar negeri. Kepemimpinan jenis ini mengutamakan penghidupan kembali
sikap nasionalisme.
g.
Tipe
Kepemimpinan Administratif/Eksekutif
Kepemimpinan
tipe administratif ialah kepemimpinan yang mampu menyelenggarakan tugas-tugas
administrasi secara efektif. Pemimpinnya biasanya terdiri dari
teknokrat-teknokrat dan administratur-administratur yang mampu menggerakkan
dinamika modernisasi dan pembangunan. Oleh karena itu dapat tercipta sistem
administrasi dan birokrasi yang efisien dalam pemerintahan. Pada tipe
kepemimpinan ini diharapkan adanya perkembangan teknis yaitu teknologi,
indutri, manajemen modern dan perkembangan sosial
ditengah masyarakat.
h. Tipe Kepemimpinan Demokratis
Kepemimpinan demokratis berorientasi pada manusia dan
memberikan bimbingan yang efisien kepada para pengikutnya. Terdapat koordinasi
pekerjaan pada semua bawahan, dengan penekanan pada rasa tanggung jawab
internal (pada diri sendiri) dan kerjasama yang baik. kekuatan kepemimpinan
demokratis tidak terletak pada pemimpinnya akan tetapi terletak pada
partisipasi aktif dari setiap warga kelompok. Kepemimpinan demokratis
menghargai potensi setiap individu, mau mendengarkan nasehat dan sugesti
bawahan. Bersedia mengakui keahlian para spesialis dengan bidangnya
masing-masing. Mampu memanfaatkan kapasitas setiap anggota seefektif mungkin
pada saat-saat dan kondisi yang tepat.
Refleksi dari
Tipe Kepemimpinan tsb:
Pada dasarnya Tipe kepemimpinan ini bukan suatu hal yang mutlak untuk
diterapkan, karena pada dasarnya semua jenis gaya kepemimpinan itu memiliki
keunggulan masing-masing. Pada situasi atau keadaan tertentu dibutuhkan gaya
kepemimpinan yang otoriter, walaupun pada umumnya gaya kepemimpinan yang
demokratis lebih bermanfaat. Oleh karena itu dalam aplikasinya, tinggal
bagaimana kita menyesuaikan gaya kepemimpinan yang akan diterapkan dalam
keluarga, organisasi/perusahan sesuai dengan situasi dan kondisi yang menuntut
diterapkannnya gaya kepemimpinan tertentu untuk mendapatkan manfaat.
CONTOH KASUS TRANSFORMASIONAL dan TRANSAKSIONAL
Ciri
pemimpin transformasional diantaranya:
Kepemimpinan transformasional
menurut Bernard M. Bass memiliki karakteristik yang membedakan dengan gaya
kepemimpinan yang lainnya diantaranya:
a. Charisma
Memberikan visi dan misi yang
masuk akal, menimbulkan kebanggaan, menimbulkan rasa hormat dan percaya.
b. Inspiration
Mengkomunikasikan harapan yang
tinggi, menggunakan simbol untuk memfokuskan upaya, mengekspresikan tujuan
penting dengan cara yang sederhana.
c. Intellectual
stimulation
Meningkatkan intelegensi,
rasionalitas, dan pemecahan masalah secara teliti.
d. Individualized
consideration
Memberikan perhatian pribadi,
melakukan pelatihan dan konsultasi kepada setiap bawahan secara individual.
Kepemimpinan transaksional
menurut Bass memiliki karakteristik sebagai berikut :
a. Contingent
reward
Kontrak
pertukaran penghargaan untuk usaha, penghargaan yang dijanjikan untuk kinerja
yang baik, mengakui pencapaian.
b. Active
management by exception
Melihat
dan mencari penyimpangan dari aturan atau standar, mengambil tindakan
perbaikan.
c. Pasive
management by exception
Intervensi
hanya jika standar tidak tercapai.
d. Laissez-faire
Melepaskan
tanggung jawab, menghindari pengambilan keputusan.
DAFTAR PUSTAKA
https://www.seputarpengetahuan.com/2015/03/19-pengertian-kepemimpinan-menurut-para-ahli.html
Nurkholis.2003.Manajemen Berbasis Sekolah.Jakarta:Grasindo
Danim, Sudarwan. 2010. Kepemimpinan pendidikan
(Kepemimpinan Jenius (IQ+EQ), Etika, Perilaku Motivational dan Mitos). Bandung: Alfabeta.
Danim, Sudarwan. 2003. Menjadi Komunitas
Pembelajar ( Kepemimpinan Transformasional dalam Komunitas Organisasi
Pembelajaran). Jakarta: Bumi Aksara.
Mulyono. 2009. Educational Leadership
(Mewujudkan Efektivitas Kepemimpinan Pendidikan). Malang: UIN Malang Press.
Widodo, Joko. Kepemimpinan Pendidikan
Transaksional dan Transformasional di SMK Non Teknik. Fakultas Ekonomi UNNES.
http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/DP/article/download/437/390
diakses pada tanggal 29 November
2012 pukul 14.44
Tidak ada komentar:
Posting Komentar