Nama
: Waode Anggi P (1C514182)
Kelas
: 3PA02
Universitas
Gunadarma
2016-2017
TEORI
ORGANISASI
Apa
itu organisasi?
Sekumpulan orang-orang yang dikumpulkan untuk mencapai
suatu tujuan tertentu. Yang dibentuk oleh satu orang atau lebih yang memiliki
aturan dan struktur kerja.
Definisi Organisasi
Organisasi dapat diartikan sebagai suatu alat atau
wadah kerjasama untuk mencapai tujuan bersama dengan pola tertentu ,yang
perwujudannya memiliki kekayaan baik fisik maupun non fisik.
Menurut Rosenzweig,organisasi dapat dipandang sebagai
: (1) Sistem sosial,yaitu orang-orang dalam kelompok,(2) integrasi atau
kesatuan dari aktivitas-aktivitas orang-orang yang bekerja sama dan (3)
orang-orang yang berorientasi dan berpedoman pada tujuan bersama.Sedangkan
Allen, berpendapat bahwa organisasi adalah suatu proses identifikasi dan
pembentukan serta pengelompokan kerja , mendefinisikan dan mendelegasikan
wewenang dan tanggung jawab dan menetapkan hubungan-hubungan dengan maksud
untuk memungkinkan orang-orang bekerja sama secara efektif dalam menuju tujuan
yang ditetapkan.
Pengertian organisasi menurut para ahli yaitu:
1.
Organisasi Menurut Stoner
Organisasi adalah
suatu pola hubungan-hubungan orang-orang di bawah pengarahan manajer (pimpinan)
untuk mengejar tujuan bersama.
2. Organisasi
Menurut James D. Mooney
Organisasi adalah
bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama.
3. Organisasi
Menurut Chester I. Bernard
Organisasi merupakan
suatu sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih.
Pengertian organisasi
formal dan non formal yaitu:
1. Organisasi
Formal
Organisasi formal
adalah kumpulan dari dua orang atau lebih yang mengikatkan diri dengan suatu
tujuan bersama secara sadar, serta dengan hubungan kerja yang rasional. Contoh
: Perseroan terbatas, Sekolah, Negara, dan lain sebagainya.
2. Organisasi
Informal
Organisasi informal
adalah kumpulan dari dua orang atau lebih yang telibat pada suatu aktifitas
serta tujuan bersama yang tidak disadari. Contoh : Arisan ibu-ibu sekampung,
belajar bersama anak-anak SD dan lain-lain.
Ciri
– Ciri Organisasi
- Sebagai
Wadah Atau Tempat Untuk Bekerja Sama
- Proses
kerja sama sedikitnya antar dua orang
- Jelas
dalam strukturnya
- Memiliki
tujuan
Unsur – Unsur
Organisasi
1. Man
Man (orang-orang), dalam kehidupan
organisasi atau ketatalembagaan sering disebut dengan istilah pegawai atau
personnel.
2. Kerjasama Kerjasama merupakan suatu perbuatan bantu-membantu
akan suatu perbuatan yang dilakukan secara bersama-sama untuk mencapai tujuan
bersama
3. Tujuan Bersama Tujuan merupakan arah atau sasaran yang dicapai. Tujuan menggambarkan tentang apa yang akan dicapai atau yang diharapkan.
4. Peralatan (Equipment) Unsur yang keempat adalah peralatan atau equipment yang terdiri dari semua sarana, berupa materi, mesin-mesin, uang, dan barang modal lainnya (tanah, gedung/bangunan/kantor).
5. Lingkungan (Environment) Faktor lingkungan misalnya keadaan sosial, budaya, ekonomi, dan teknologi. Termasuk dalam unsur lingkungan, antara lain :
3. Tujuan Bersama Tujuan merupakan arah atau sasaran yang dicapai. Tujuan menggambarkan tentang apa yang akan dicapai atau yang diharapkan.
4. Peralatan (Equipment) Unsur yang keempat adalah peralatan atau equipment yang terdiri dari semua sarana, berupa materi, mesin-mesin, uang, dan barang modal lainnya (tanah, gedung/bangunan/kantor).
5. Lingkungan (Environment) Faktor lingkungan misalnya keadaan sosial, budaya, ekonomi, dan teknologi. Termasuk dalam unsur lingkungan, antara lain :
a. Kondisi atau situasi yang secara
langsung maupun secara tidak langsung berpengaruh terhadap daya gerak kehidupan
organisasi, karena kondisi atau situasi akan selalu mengalami perubahan.
b Tempat atau
lokasi, sangat erat hubungannya dengan masalah komunikasi dan transportasi
yang harus dilakukan oleh organisasi.
c Wilayah
operasi yang dijadikan sasaran kegiatan organisasi.
6. Kekayaan Alam Yang termasuk dalam kekayaan alam ini misalnya keadaan
iklim, udara, air, cuaca (geografi, hidrografi, geologi, klimatologi), flora
dan fauna.
Karakteristik
Organisasi (Nicholas Henry, 1988 : 73):
1.
Punya maksud tertentu, dan merupakan kumpulan berbagai
manusia
2.
Punya hubungan sekunder (impersonal)
3.
Punya tujuan yang khusus dan terbatas
4.
Punya kegiatan kerjasama pendukung
5.
Terintegrasi dalam sistem sosial yang lebih luas
6.
Menghasilkan barang dan jasa untuk lingkungannya dan
sangat terpengaruh atas setiap perubahan lingkungan.
Dimensi Desain
Organisasi
Menurut Richard L. Daft (1998:15), dimensi desain organisasi terdiri dari 2 tipe yaitu:
1. Dimensi Struktural, yaitu dimensi yang menggambarkan karakteristik internal dari organisasi dan menciptakan suatu dasar untuk mengukur dan membandingkan organisasi.
2. Dimensi
Kontekstual, yaitu dimensi yang menggambarkan keseluruhan dari suatu
organisasi. Dimensi ini memperlihatkan susunan organisasi yang mempengaruhi dan
membentuk suatu dimensi struktural organisasi
Bentuk Desain
Organisasi
Bentuk dari desain organisasi ini ditentukan oleh tingkat formalisasi yang dilakukan, tingkat sentralisasi dalan organisasi, kualifikasi karyawan, span of control yang ada serta komunikasi dan koordinasi yang ada dalam organisasi (Robbins,2003:136). Bentuk desain organisasi terdiri dari :
a. Organic Pada
organisasi yang berbentuk organic, maka dalam organisasi ini terdapat tingkat
formalisasi yang rendah, terdapat tingkat sentralisasi yang rendah, serta
diperlukan training dan pengalaman untuk melakukan tugas pekerjaan. Selain itu
terdapat span of control yang sempit serta adanya komunikasi horisontal dalam
organisasi.
b. Mostly Organic Pada organisasi yang berbentuk mostly organic, formalisasi dan sentralisasi yang diterap kan berada di tingkat moderat. Selain itu diperlukan pengalaman kerja yang banyak dalam organisasi ini. Terdapat span of control yang bersifat antara moderat sampai lebar serta lebih banyak komunikasi horisontal yang bersifat verbal dalam organisasi tersebut.
c. Mechanistic Pada organisasi yang berbentuk mechanistic, terdapat ciri-ciri yaitu: adanya tingkat formalisasi yang tinggi, tingkat sentralisasi yang tinggi, training atau pengalaman kerja yang sedikit atau tidak terlalu penting, ada span of control yang lebar serta adanya komunikasi yang bersifat vertikal dan tertulis.
b. Mostly Organic Pada organisasi yang berbentuk mostly organic, formalisasi dan sentralisasi yang diterap kan berada di tingkat moderat. Selain itu diperlukan pengalaman kerja yang banyak dalam organisasi ini. Terdapat span of control yang bersifat antara moderat sampai lebar serta lebih banyak komunikasi horisontal yang bersifat verbal dalam organisasi tersebut.
c. Mechanistic Pada organisasi yang berbentuk mechanistic, terdapat ciri-ciri yaitu: adanya tingkat formalisasi yang tinggi, tingkat sentralisasi yang tinggi, training atau pengalaman kerja yang sedikit atau tidak terlalu penting, ada span of control yang lebar serta adanya komunikasi yang bersifat vertikal dan tertulis.
d. Mostly Mechanistic
Pada jenis organisasi ini, terdapat ciri-ciri yaitu: adanya formalisasi dan
sentralisasi pada tingkat moderat, adanya training-training yang bersifat
formal atau wajib, span of control yang bersifat moderat serta terjadi
komunikasi tertulis maupun verbal dalam organisasi tersebut.
SUMBER DAYA MANUSIA
Sumber daya manusia (SDM) adalah salah satu faktor yang sangat penting
bahkan tidak dapat dilepaskan dari sebuah organisasi, baik institusi maupun
perusahaan.SDM juga
merupakan kunci yang menentukan perkembangan perusahaan.
Pengertian sumber daya manusia dan
penerapannya sering kali masih belum sejalan dengan keinginan organisasi.
Sementara keselarasan dalam mengelola SDM menjadi faktor utama kesuksesan
jalannya sebuah organisasi. Lalu sumber daya yang bagaimana yang perlu
dikembangkan agar tujuan organisasi bisa tercapai dengan baik?
Sebelum melangkah lebih lanjut, ada
baiknya kita kembali ke pengertian awal untuk memahami hal ini. Apa yang
dimaksud dengan sumber daya manusia? Mari kita lihat menurut pendapat para
ahli.
1. Sonny Sumarsono (2003, h 4), Sumber
Daya Manusia atau human recources mengandung dua pengertian. Pertama, adalah
usaha kerja atau jasa yang dapat diberikan dalam proses produksi. Dalam hal
lain SDM mencerminkan kualitas usaha yang diberikan oleh seseorang dalam waktu
tertentu untuk menghasilkan barang dan jasa. Pengertian kedua, SDM menyangkut
manusia yang mampu bekerja untuk memberikan jasa atau usaha kerja tersebut.
Mampu bekerja berarti mampu melakukan kegiatan yang mempunyai kegiatan
ekonomis, yaitu bahwa kegiatan tersebut menghasilkan barang atau jasa untuk
memenuhi kebutuhan atau masyarakat.
2. Mary Parker Follett Manajemen
Sumber Daya Manusia adalah suatu seni untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi
melalui pengaturan orang-orang lain untuk melaksanakan berbagai pekerjaan yang
diperlukan, atau dengan kata lain tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan itu
sendiri.
Definisi ini, yang dikemukakan oleh
Mary Parker Follett, mengandung arti bahwa para manajer mencapai tujuan-tujuan
organisasi melalui pengaturan orang-orang lain untuk melaksanakan berbagai
pekerjaan yang diperlakukan, atau dengan kata lain dengan tidak melakukan
pekerjaan-pekerjaan itu sendiri.
Manajemen memang dapat mempunyai
pengertian lebih luas dari pada itu, tetapi definisi di atas memberikan kepada
kita kenyataan bahwa kita terutama mengelola sumber daya manusia bukan material
atau finansial.
Di lain pihak manajemen mencakup
fungsi-fungsi perencanaan (penetapan apa yang akan dilakukan), pengorganisasian
(perencanaan dan penugasan kelompok kerja), penyusunan personalia (penarikan,
seleksi, pengembangan, pemberian kompensasi, dan penilaian prestasi kerja),
pengarahan (motivasi, kepemimpinan, integrasi, dan pengelolaan konflik) dan
pengawasan.
3. M.T.E. Hariandja (2002, h 2) Sumber
Daya Manusia merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam suatu
perusahaan disamping faktor yang lain seperti modal. Oleh karena itu SDM harus
dikelola dengan baik untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi organisasi.
4. Mathis dan Jackson (2006, h.3) SDM
adalah rancangan sistem-sistem formal dalam sebuah organisasi untuk memastikan
penggunaan bakat manusia secara efektif dan efisien guna mencapai tujuan
organisasi.
Demikian pula menurut The Chartered
Institute of Personnel and Development (CIPD) dalam Mullins (2005). Sumber daya
manusia dinyatakan sebagai strategi perancangan, pelaksanaan dan pemeliharaan
untuk mengelola manusia untuk kinerja usaha yang optimal termasuk kebijakan
pengembangan dan proses untuk mendukung strategi.
5. Hasibuan (2003, h 244) Pengertian
Sumber Daya Manusia adalah kemampuan terpadu dari daya pikir dan daya fisik
yang dimiliki individu. Pelaku dan sifatnya dilakukan oleh keturunan dan
lingkungannya, sedangkan prestasi kerjanya dimotivasi oleh keinginan untuk
memenuhi kepuasannya.
SDM terdiri dari daya fikir dan daya
fisik setiap manusia. Tegasnya kemampuan setiap manusia ditentukan oleh daya
fikir dan daya fisiknya. SDM atau manusia menjadi unsur utama dalam setiap
aktivitas yang dilakukan. Peralatan yang handal atau canggih tanpa peran aktif
SDM, tidak berarti apa-apa. Daya pikir adalah kecerdasan yang dibawa sejak
lahir (modal dasar) sedangkan kecakapan diperoleh dari usaha (belajar dan
pelatihan). Kecerdasan tolok ukurnya Intelegence Quotient (IQ) dan Emotion
Quality (EQ).
KEPEMIMPINAN
Teori
kepemimpinan yang sering digunakan oleh orang untuk dijadikan referensi untuk
makalah kepemimpinan. Sebelum kita memasuki pengertian kepemimpinan maka ada
baiknya kita membahas hakekat kepemimpinan. Hakekat Kepemimpinan (Leadership) Kepemimpinan
adalah suatu subjek yang telah lama diminati oleh para ilmuwan maupun untuk
orang awam. Istilah tersebut berisi konotasi mengenai citra individu-individu
yang berkuasa dan dinamis yang telah berhasil memimpin armada yang menang
perang, yang dapat mengendalikan kerajaan-kerajaan korporasi dari atas
gedung-gedung pencakar langit yang sangat berkilauan, atau yang mengarahkan
kemana tujuan bangsa-bangsa. Kebanyakan dari uraian kita mengenai sejarah
berupa cerita mengenai pemimpin-pemimpin militer, politik, agama dan sosial.
Kehebatan-kehebatan yang berasal dari para pemimpin yang berani merupakan inti
dari banyaknya legenda serta sebuah mitos. Kekaguman yang meluas mengenai
kepemimpinan mungkin karena merupakan sesuatu proses yang demikian misterius
dan menyangkut tentang kehidupan semua orang. Mengapa beberapa orang pemimpin
tertentu seperti (Gandhi, Nabi Muhammad Saw, Mao Tse-tung) bisa menimbulkan
adanya semangat dan dedikasi yang demikian mendalam? Bagaimanakah dengan
pemimpin-pemimpin tertentu seperti Julius Caesar, Iskandar Agung, dan
Charlemagne yang telah membangun kerajaan-kerajaan yang sedemikian besarnya?
Mengapa pemimpin-pemimpin tertentu seperti Indira Gandhi dan Winston Churchill
mendadak jatuh dari kekuasaannya, meskipun kelihatannya memiliki kekuasaan
serta memiliki catatan prestasi yang sangat baik? Mengapa orang-orang yang
tertentu yang kurang dikenali seperti Claudius Caesar dan Adolf Hitler memiliki
pengikut-pengikut yang begitu setia sehingga bersedia untuk mengorbankan
seluruh hidupnya untuk dirinya tersebut, sedangkan pada beberapa pemimpin
lainnya sedemikian begitu dibencinya sehingga para pengikut mereka melakukan
untuk berkomplot agar bisa membunuh mereka?
Pertanyaan-pertanyaan tentang kepemimpinan sudah lama menjadi suatu subjek spekulasi, akan tetapi pada penelitian ilmiah tentang kepemimpinan itu belum dimulai sebelum di abad kedua puluh. Fokus dari kebanyakan dari penelitian ialah tentang determinan-determinan dari segala efektivitas kepemimpinan. Para ilmuwan perilaku atau behavioral scientist sudah mencoba untuk bisa menemukan beberapa ciri-ciri, perilaku-perilaku, kemampuan-kemampuan, sumber –sumber kekuasaan atau aspek-aspek apa sajakah dari situasi tersebut yang dapat menentukan klompok. Alasan mengapa orang-orang tersebut timbul sebagai pemimpin dan menjadi determinan dari cara seseorang dalam bertindak merupakan sesuatu pertanyaan yang sangat penting lainnya yang sudah diteliti, nammun perhatian yang sangat dominan mengenai efektivitas kepemimpinan.
Pertanyaan-pertanyaan tentang kepemimpinan sudah lama menjadi suatu subjek spekulasi, akan tetapi pada penelitian ilmiah tentang kepemimpinan itu belum dimulai sebelum di abad kedua puluh. Fokus dari kebanyakan dari penelitian ialah tentang determinan-determinan dari segala efektivitas kepemimpinan. Para ilmuwan perilaku atau behavioral scientist sudah mencoba untuk bisa menemukan beberapa ciri-ciri, perilaku-perilaku, kemampuan-kemampuan, sumber –sumber kekuasaan atau aspek-aspek apa sajakah dari situasi tersebut yang dapat menentukan klompok. Alasan mengapa orang-orang tersebut timbul sebagai pemimpin dan menjadi determinan dari cara seseorang dalam bertindak merupakan sesuatu pertanyaan yang sangat penting lainnya yang sudah diteliti, nammun perhatian yang sangat dominan mengenai efektivitas kepemimpinan.
Pengertian
Kepemimpinan, Gaya dan Teori Kepemimpinan
Pengertian
Kepemimpinan menurut para ahli
Adapun
beberapa pengertian kepemimpinan menurut para ahli yaitu:
Pengertian kepemimpinan menurut Hemhill dan Coons adalah perilaku dari seorang individu yang memimpin aktivitas-aktivitas suatu kelompok ke suatu tujuan yang ingin dicapai bersama (shared goals). Pengertian kepemimpinan menurut Tannenbaum, Weschler dan Masarik menyatakan bahwa kepemimpinan adalah Pengaruh antar pribadi yang dijalankan dalam suatu situasi tertentu, serta diarahkan melalui proses komunikasi, ke arah pencapaian satu atau beberapa tujuan tertentu”. Pengertian kepemimpinan menurut Stogdill menyatakan bahwa kepemimpinan adalah pembentukan awal serta pemeliharaan struktur dalam harapan dan interaksi. Pengertian kepemimpinan menurut Katz dan Kahn menyatakan bahwa adalah peningkatan pengaruh sedikit demi sedikit pada , dan berada di atas kepatuhan mekanis terhadap pengarahan-pengarahan rutin organisasi. Pengertian kepemimpinan menurut Rauch dan Behling menyatakan bahwa kepemimpinan adalah suatu proses mempengaruhi aktivitas-aktivitas sebuah kelompok yang diorganisasi ke arah pencapaian tujuan. Pengertian kepemimpinan menurut Jacobs dan Jacquesmenyatakan bahwa kepemimpinan adalah suatu proses memberi arti atau pengarahan yang berarti terhadap usaha kolektif dan yang mengakibatkan kesediaan untuk melakukan usaha yang diinginkan untuk mencapai sasaran. Pengertian kepemimpinan menurut Hosking adalh mereka yang secara konsisten memberi kontribusi yang efektif terhadap orde sosial yang diharapkan dan dipersepsikan melakukannya Pengertian kepemimpinan menurut S.P. Siagian menyatakan bahwa kepemimpinan adalah suatu keterampilan dan kemampuan dari seseorang yang telah menduduki jabatan menjadi pimpinan dalam sebuah pekerjaan dalam mempengaruhi tindakan orang lain, terutama kepada bawahannya agar berfikir dan bertingkah laku sedemikian rupa sehingga melalui tingkah laku positif ini dapat memberikan sumbangan yang nyata didalam pencapaian tujuan organisasi. Pengertian kepemimpinan menurut Prof. Kimbal Young menyatakan bahwa kepemimpinan adalah suatu bentuk dominasi yang disengaja atau disadari oleh kemampuan pribadi yang mampu mendoring atau mengajak kepad aorang lain dalam melakukan sesuatu berdasarkan atas penerimaan oleh kelompoknya dan mempunyai keahlian yang khusus secara tepat bagi situasi yang khusus. Pengertian kepemimpinan menurut Ordway tead dalam bukunya The Art Of LeaderShip yang menyatakan bahwa kepemimpinan adalah suatu kegiatan dalam mempengaruhi orang-orang agar mereka ingin bekerja sama dalam mencapai tujuan yang kita inginkan.Pengertian kepemimpinan menurut George R. Terry menyatakan bahwa kepemimpinan adalah suatu kegiatan untuk mempengaruhi orang-orang agar mereka menyukai untu berusaha dalam mencapai tujuan-tujuan kelompok atua organisasi. Pengertian kepemimpinan menurutHoward H. Hoyt menyatakan bahwa kepemimpinan adalah seni untuk bisa mempengaruhi segala tingkahlaku dari manusia, dan memiliki kemampuan dalam membimbing seseorang.
Itulah tadi beberapa pengertian kepemimpinan menurut pandangan para ahli.
Kebanyakan pengertian kepemimpinan mencerminkan asumsi bahwa kepemimpinan menyangkut sebuah proses pengaruh sosial yang dalam hal ini pengaruh yang disengajai untuk dijalankan oleh seseorang terhadap organisasi atau kelompok. Berbagai pengertian kepemimpinan yang sudah ditawarkan tapi kelihatannya tidak berisi hal-hal selain itu. Pengertian tersebut berbeda dalam berbagai aspek, termasuk didalamnya siapa yang menggunakan pengaruh, sasaran yang ingin diperoleh dari pengaruh tersebut, cara bagaimana pengaruh tersebut digunakan, serta hasil dari uasaha menggunakan pengaruh tersebut. Perbedaan-perbedaan tersebut bukan hanya merupakan sebuah hal akademis yang dicari-cari. Ia mencerminkan adanya ketidaksesuaian yang mendalam mengenai identifikasi dari para pemimpin serta proses kepemimpinan. Perbedaan-perbedaan didalam pemilihan fenomena untuk melakukan penyelidikan dan kemudian menimbulkan perbedaan-perbedaan dalam mengeinterpretasikan hasilnya.
Pengertian kepemimpinan menurut Hemhill dan Coons adalah perilaku dari seorang individu yang memimpin aktivitas-aktivitas suatu kelompok ke suatu tujuan yang ingin dicapai bersama (shared goals). Pengertian kepemimpinan menurut Tannenbaum, Weschler dan Masarik menyatakan bahwa kepemimpinan adalah Pengaruh antar pribadi yang dijalankan dalam suatu situasi tertentu, serta diarahkan melalui proses komunikasi, ke arah pencapaian satu atau beberapa tujuan tertentu”. Pengertian kepemimpinan menurut Stogdill menyatakan bahwa kepemimpinan adalah pembentukan awal serta pemeliharaan struktur dalam harapan dan interaksi. Pengertian kepemimpinan menurut Katz dan Kahn menyatakan bahwa adalah peningkatan pengaruh sedikit demi sedikit pada , dan berada di atas kepatuhan mekanis terhadap pengarahan-pengarahan rutin organisasi. Pengertian kepemimpinan menurut Rauch dan Behling menyatakan bahwa kepemimpinan adalah suatu proses mempengaruhi aktivitas-aktivitas sebuah kelompok yang diorganisasi ke arah pencapaian tujuan. Pengertian kepemimpinan menurut Jacobs dan Jacquesmenyatakan bahwa kepemimpinan adalah suatu proses memberi arti atau pengarahan yang berarti terhadap usaha kolektif dan yang mengakibatkan kesediaan untuk melakukan usaha yang diinginkan untuk mencapai sasaran. Pengertian kepemimpinan menurut Hosking adalh mereka yang secara konsisten memberi kontribusi yang efektif terhadap orde sosial yang diharapkan dan dipersepsikan melakukannya Pengertian kepemimpinan menurut S.P. Siagian menyatakan bahwa kepemimpinan adalah suatu keterampilan dan kemampuan dari seseorang yang telah menduduki jabatan menjadi pimpinan dalam sebuah pekerjaan dalam mempengaruhi tindakan orang lain, terutama kepada bawahannya agar berfikir dan bertingkah laku sedemikian rupa sehingga melalui tingkah laku positif ini dapat memberikan sumbangan yang nyata didalam pencapaian tujuan organisasi. Pengertian kepemimpinan menurut Prof. Kimbal Young menyatakan bahwa kepemimpinan adalah suatu bentuk dominasi yang disengaja atau disadari oleh kemampuan pribadi yang mampu mendoring atau mengajak kepad aorang lain dalam melakukan sesuatu berdasarkan atas penerimaan oleh kelompoknya dan mempunyai keahlian yang khusus secara tepat bagi situasi yang khusus. Pengertian kepemimpinan menurut Ordway tead dalam bukunya The Art Of LeaderShip yang menyatakan bahwa kepemimpinan adalah suatu kegiatan dalam mempengaruhi orang-orang agar mereka ingin bekerja sama dalam mencapai tujuan yang kita inginkan.Pengertian kepemimpinan menurut George R. Terry menyatakan bahwa kepemimpinan adalah suatu kegiatan untuk mempengaruhi orang-orang agar mereka menyukai untu berusaha dalam mencapai tujuan-tujuan kelompok atua organisasi. Pengertian kepemimpinan menurutHoward H. Hoyt menyatakan bahwa kepemimpinan adalah seni untuk bisa mempengaruhi segala tingkahlaku dari manusia, dan memiliki kemampuan dalam membimbing seseorang.
Itulah tadi beberapa pengertian kepemimpinan menurut pandangan para ahli.
Kebanyakan pengertian kepemimpinan mencerminkan asumsi bahwa kepemimpinan menyangkut sebuah proses pengaruh sosial yang dalam hal ini pengaruh yang disengajai untuk dijalankan oleh seseorang terhadap organisasi atau kelompok. Berbagai pengertian kepemimpinan yang sudah ditawarkan tapi kelihatannya tidak berisi hal-hal selain itu. Pengertian tersebut berbeda dalam berbagai aspek, termasuk didalamnya siapa yang menggunakan pengaruh, sasaran yang ingin diperoleh dari pengaruh tersebut, cara bagaimana pengaruh tersebut digunakan, serta hasil dari uasaha menggunakan pengaruh tersebut. Perbedaan-perbedaan tersebut bukan hanya merupakan sebuah hal akademis yang dicari-cari. Ia mencerminkan adanya ketidaksesuaian yang mendalam mengenai identifikasi dari para pemimpin serta proses kepemimpinan. Perbedaan-perbedaan didalam pemilihan fenomena untuk melakukan penyelidikan dan kemudian menimbulkan perbedaan-perbedaan dalam mengeinterpretasikan hasilnya.
Teori-teori
kepemimpinan (Leadership theory)
Teori kepemimpinan yaitu teori genetis dimana
menjelaskan bahwa seseorang akan dapat menjadi pemimpin karena ia telah
dilahirkan untuk bisa menjadi pemimpin; dia telah memiliki bakat dan mempunyai
pembawaan untuk bisa menjadi pemimpin. Menurut teori kepemimpinan seperti teori
genetis ini mengasumsikan bahwa tidak setiap orang dapat menjadi pemimpin,
hanya beberapa orang yang memiliki pembawaan dan bakat saja yang dapat menjadi
pemimpin. Hal tersebut memunculkan “Pemimpin tidak hanya sekedar dibentuk tapi
dilahirkan”.
Teori kepemimpinan yang kedua yaitu teori sosial yang
menyatakan bahwa seseorang akan dapat menjadi pemimpin karena lingkungannya
yang mendukung, keadaan dan waktu memungkinkan ia bisa menjadi pemimpin. Setiap
orang dapat memimpin asal diberikan kesempatan dan diberikan pembinaan
untuk dapat menjadi pemimpin meskipun ia tidak memiliki pembawaan atau
bakat. Adapun istilah dari teori kepemimpinan sosial ini yaitu Pemimpin itu
dibentuk bukan dilahirkan.
Teori kepemimpinan yang ketiga yaitu teori ekologis,
dalam teori kepemimpinan ekologis ini menyatakan bahwa gabungan dari teori
genetis dan sosial, dimana seseorang akan menjadi pemimpin membutuhkan bakat
dan bakat tersebut mesti selalu dibina agar berkembang. Kemungkinan untuk bisa
mengembangkan bakat tersebut itu tergantung dari lingkungannya.
Teori kepemimpinan yang keempat yaitu teori situasi, dalam teori kepemimpinan situasi ini menyatkaan bahwa seseorang dapat menjadi pemimpin ketika berada dalam situasi tertentu karena dia memiliki kelebihan-kelebihan yang dibutuhkan dalam situasi tersebut. Akan tetapi pada situasi yang lainnya, kelebihannya tersebut tidak dibutuhkan, akhirnya ia tidak akan menjadi pemimpin lagi, bahkan bisa jadi menjadi pengikut saja.
Teori kepemimpinan yang keempat yaitu teori situasi, dalam teori kepemimpinan situasi ini menyatkaan bahwa seseorang dapat menjadi pemimpin ketika berada dalam situasi tertentu karena dia memiliki kelebihan-kelebihan yang dibutuhkan dalam situasi tersebut. Akan tetapi pada situasi yang lainnya, kelebihannya tersebut tidak dibutuhkan, akhirnya ia tidak akan menjadi pemimpin lagi, bahkan bisa jadi menjadi pengikut saja.
Oleh karena itu, jika seorang ingin menjadi pemimpin
dan ingin meningkatkan kecakapannya dan kemampuannya dalam memimpin maka
dibutuhkan untuk bisa mengetahui segala ruang lingkup gaya kepemimpinan yang
efektif. Adapun para ahli dalam bidang kepemimpinan sudah meneliti dan
mengembangkan beberapa gaya kepemimpinan yang berbeda dimana sesuai dengan
adanya evolusi dari teori kepemimpinan. Untuk ruang lingkupnya, gaya
kepemimpinan terbagi atas tiga pendekatan yaitu pendekatan sifat kepribadian
pemimpin, dan pendekatan perilaku pemimpin dan pendekatan situasional atau
kontingensi.
Tipe dan Gaya kepemimpinan Pemimpin itu memiliki
sifat, kebiasaan dan watak serta kepribadian yang khas. Dari tingkah laku dan
gayanya lah yang dapat membedakan dirinya dibanding orang lain. Gaya tentunya
akan selalu dapat mewarnai perilaku dan tipe seseorang dalam pemimpin atau gaya
kepemimpinan.
Gaya kepemimpinan
Adapun gaya-gaya kepemimpinan yaitu sebagai berikut –
Gaya kepemimpinan otokratis
Gaya ini terkadang disebut sebagai kepemimpinan yang terpusat pada diri pemimpin atau gaya direktif. Gaya otokratis ini ditandai dengan adanya petunjuk yang sangat banyak sekali yang berasal dari pemimpin dan tidak ada satupun peran para anak buah dalam merencanakan dan sekaligus mengambil suatu keputusan. Gaya kepemimpinan otokratis ini akan menentukan sendiri keputusan, peran, bagaimana, kapan dan bilamana secara sepihak. Yang pasti tugas yang diperintahkan mesti dilaksanakan. Paling sangat menonjol dalam gaya kepemimpinan otokratis ini adalah seseorang akan memberikan perintah dan mesti dipatuhi. Ia akan memerintah berdasarkan dari kemampuannya untuk menjatuhkan hukuman serta memberikan hadiah. Gaya kepemimpinan otokratis adalah suatu kemampuan dalam mempengaruhi orang lain yang ada disekitar agar mau bersedia berkerjasama dalam mencapai tujuan yang sudah ditentukan dengan ditempuh atas segala cara kegiatan yang akan dijalankan atas dasar putusan dari pemimpin.
Gaya ini terkadang disebut sebagai kepemimpinan yang terpusat pada diri pemimpin atau gaya direktif. Gaya otokratis ini ditandai dengan adanya petunjuk yang sangat banyak sekali yang berasal dari pemimpin dan tidak ada satupun peran para anak buah dalam merencanakan dan sekaligus mengambil suatu keputusan. Gaya kepemimpinan otokratis ini akan menentukan sendiri keputusan, peran, bagaimana, kapan dan bilamana secara sepihak. Yang pasti tugas yang diperintahkan mesti dilaksanakan. Paling sangat menonjol dalam gaya kepemimpinan otokratis ini adalah seseorang akan memberikan perintah dan mesti dipatuhi. Ia akan memerintah berdasarkan dari kemampuannya untuk menjatuhkan hukuman serta memberikan hadiah. Gaya kepemimpinan otokratis adalah suatu kemampuan dalam mempengaruhi orang lain yang ada disekitar agar mau bersedia berkerjasama dalam mencapai tujuan yang sudah ditentukan dengan ditempuh atas segala cara kegiatan yang akan dijalankan atas dasar putusan dari pemimpin.
Adapun ciri-ciri gaya kepemimpinan otokratis ini yaitu
wewenang mutlak itu terpusat dari pemimpin, keputusan akan selalu dibuat oleh
pemimpin, kebijakan akan selalu dibuat oleh pemimpin, komunikasi hanya
berlangsung dalam satu arah dimana dari pimpinan ke bawahan bukan sebaliknya,
pengawsan terhadap (sikap, perbuatan, tingkah laku atau kegiatan) dari para
bawahannya dilakukan dengan ketat, tak ada kesempatan untuk para bawahan dalam
memberikan (pendapat, saran atau pertimbangan), lebih banyak mendapatkan
kritikan dibanding pujian, menuntut adanya kesetiaan dan prestasi yang sempurna
dari para bawahan tanpa adanya syarat, dan cenderung memberikan paksaan,
hukuman dan anacaman.
– Gaya Kepemimpinan Demokratis Gaya
kepemimpinan demokratis adalah suatu kemampuan dalam mempengaruh orang lain
agar dapat bersedia untuk bekerja sama dalam mencapai tujuan yang sudah
ditetapkan dengan berbagai cara atau kegiatan yang dapat dilakukan dimana
ditentukan bersama antara bawahan dan pimpinan.
Gaya tersebut terkadan gidsebut sebagai gaya kepemimpinan yang terpusat pada anak buah, kepemimpinan dengan adanya kesederajatan, kepemimpinan partisipatif atau konsultatif. Pemimpin yang berkonsultasi kepada anak buahnya dalam merumuskan suatu tindakan putusan bersama. Adapun ciri-ciri dari gaya kepemimpinan demokratis ini yaitu memiliki wewenang pemimpin yang tidak mutlah, pimpinan bersedia dalam melimpahkan sebagian wewenang kepada bawahan, kebijakan dan keputusan itu dibuat bersama antara bawahan dan pimpinan, komunikasi dapat berlangsung dua arah dimana pimpinan ke bawahan dan begitupun sebaliknya, pengawasan terhadap (sikap, perbuatan, tingkah laku atau kegiatan) kepada bawahan dilakukan dengan wajar, prakarsa bisa datang dari bawahan atau pimpinan, bawahan memiliki banyak kesempatan dalam menyampaikan saran atau pendapat dan tugas-tugas yang diberikan kepada bawahan bersifat permintaan dengan mengenyampingkan sifat instruksi, dan pimpinan akan memperhatikan dalam bertindak dan bersikap untuk memunculkan saling percaya dan saling menghormati.
Gaya tersebut terkadan gidsebut sebagai gaya kepemimpinan yang terpusat pada anak buah, kepemimpinan dengan adanya kesederajatan, kepemimpinan partisipatif atau konsultatif. Pemimpin yang berkonsultasi kepada anak buahnya dalam merumuskan suatu tindakan putusan bersama. Adapun ciri-ciri dari gaya kepemimpinan demokratis ini yaitu memiliki wewenang pemimpin yang tidak mutlah, pimpinan bersedia dalam melimpahkan sebagian wewenang kepada bawahan, kebijakan dan keputusan itu dibuat bersama antara bawahan dan pimpinan, komunikasi dapat berlangsung dua arah dimana pimpinan ke bawahan dan begitupun sebaliknya, pengawasan terhadap (sikap, perbuatan, tingkah laku atau kegiatan) kepada bawahan dilakukan dengan wajar, prakarsa bisa datang dari bawahan atau pimpinan, bawahan memiliki banyak kesempatan dalam menyampaikan saran atau pendapat dan tugas-tugas yang diberikan kepada bawahan bersifat permintaan dengan mengenyampingkan sifat instruksi, dan pimpinan akan memperhatikan dalam bertindak dan bersikap untuk memunculkan saling percaya dan saling menghormati.
– Gaya kepemimpinan delegatif Gaya
kepemimpinan delegatif memiliki ciri-ciri yaitu pemimpin akan jarang dalam
memberikan arahan, pembuat keputusan diserahkan kepada bawahan, dan anggota
organisasi tersebut diharapkan bisa menyelesaikan segala permasalahannya
sendiri. Gaya kepemimpinan delegatif ini memiliki ciri khas dari perilaku
pemimpin didalam melakukan tugasnya sebagai pemimpin. Dengan demikian, maka
gaya kepemimpinan seorang pemimpin akan sangat dipengaruhi adanya karakter
pribadinya. Kepemimpinan delegatif merupakan sebuah gaya kepemimpinan yang
dijalankan oleh pimpinan untuk bawahannya yang mempunyai kemampuan, agar bisa
menjalankan aktivitasnnya yang untuk sementara waktu tak bisa dilakukan oleh
pimpinan dengan berbagai macam sebab. Gaya kepemimpinan delegatif ini sangat cocok
dilakukan kalau staff yang dimiliki ternyata mempunyai motivasi dan kemampuan
yang tinggi. Dengan demikian pimpinan tak terlalu banyak dalam memberikan
perintah kepada bawahannya, bahkan pemimpin akan lebih banyak dalam memberikan
dukungan untuk bawahannya.
– Gaya kepemimpinan birokratis. Gaya
kepemimpinan birokratis ini dilukiskan dengan pernyataan “Memimpin berdasarkan
adanya peraturan”. Perilaku memimpin yang ditandai dengan adanya keketatan
pelaksanaan suatu prosedur yang telah berlaku untuk pemimpin dan anak buahnya.
Pemimpin yang birokratis, secara umum akan membuat segala keputusan itu
berdasarkan dari aturan yang telah berlaku dan tidak ada lagi fleksibilitas.
Segala kegiatan mesti terpusat pada pemimpin dan sedikit saja diberikan
kebebasan kepada orang lain dalam berkreasi dan bertindak, itupun tak boleh
melepaskan diri dari ketentuan yang sudah berlaku. Adapun beberapa ciri gaya
kepemimpinan birokratis ialah Pimpinan akan menentukan segala keputusan yang
berhubungan dengan seluruh pekerjaan dan akan memerintahkan semua bawahan untuk
bisa melaksanakannya; Pemimpin akan menentukan semua standar tentang bagaimana
bawahan akan melakukan tugas; Adanya sanksi yang sangat jelas kalau seorang
bawahan tidak bisa menjalankan tugas sesuai dengan standar kinerja yang sudah
ditentukan.
– Gaya Kepemimpinan Laissez Faire Gaya
ini akan mendorong kemampuan anggota dalam mengambil inisiatif. Kurang
interaksi dan kontrol yang telah dilakukan oleh pemimpin, sehingga gaya
tersebut hanya dapat berjalan jika bawahan mampu memperlihatkan tingkat
kompetensi dan keyakinan dalam mengejar tujuan dan sasaran yangcukup tinggi.
Dalam gaya kepemimpinan ini, pemimpin sedikit sekali dalam menggunakan kekuasaannya atau sama sekali telah membiarkan anak buahnya untuk berbuat dalam sesuka hatinya. Adapun ciri-ciri gaya kepemimpinan Laissez Faire adalah Bawahan akan diberikan kelonggaran atau fleksibelitas dalam menjalankan tugas-tugasnya, tetapi dengan hati-hati diberikan batasan serta berbagai macam prosedur; Bawahan yang sudah berhasil dalam menyelesaikan tugas-tugasnya akan diberikan hadiah atau penghargaan, di samping adanya suatu sanksi-sanksi bagi mereka yang kurang berhasil, sebagai dorongan; Hubungan antara pimpinan dan bawahan dalam suasana yang sangat baik secara umum manajer akan bertindak cukup baik; Manajer akan menyampaikan berbagai macam peraturan yang berhubungan dengan tugas-tugas atau perintah, dan sebaliknya para bawahan akan diberikan kebebasan dalam memberikan pendapatannya.
Dalam gaya kepemimpinan ini, pemimpin sedikit sekali dalam menggunakan kekuasaannya atau sama sekali telah membiarkan anak buahnya untuk berbuat dalam sesuka hatinya. Adapun ciri-ciri gaya kepemimpinan Laissez Faire adalah Bawahan akan diberikan kelonggaran atau fleksibelitas dalam menjalankan tugas-tugasnya, tetapi dengan hati-hati diberikan batasan serta berbagai macam prosedur; Bawahan yang sudah berhasil dalam menyelesaikan tugas-tugasnya akan diberikan hadiah atau penghargaan, di samping adanya suatu sanksi-sanksi bagi mereka yang kurang berhasil, sebagai dorongan; Hubungan antara pimpinan dan bawahan dalam suasana yang sangat baik secara umum manajer akan bertindak cukup baik; Manajer akan menyampaikan berbagai macam peraturan yang berhubungan dengan tugas-tugas atau perintah, dan sebaliknya para bawahan akan diberikan kebebasan dalam memberikan pendapatannya.
– Gaya Kepemimpinan Otoriter / Authoritarian
Adalah gaya pemimpin yang telah memusatkan segala keputusan dan kebijakan yang
ingin diambil dari dirinya sendiri dengan secara penuh. Segala pembagian tugas
dan tanggung jawab akan dipegang oleh si pemimpin yang bergaya otoriter
tersebut, sedangkan para bawahan hanya sekedar melaksanakan tugas yang sudah
diberikan. Tipe kepemimpinan yang otoriter biasanya mengarah kepada tugas.
Artinya dengan adanya tugas yang telah diberikan oleh suatu lembaga atau suatu
organisasi, maka kebijaksanaan dari lembaganya ini mesti diproyeksikan dalam
bagaimana ia dalam memerintah kepada bawahannya agar mendapatkan kebijaksanaan
tersebut dapat tercapai dengan baik. Di sini bawahan hanyalah menjadi suatu
mesin yang hanya sekedar digerakkan sesuai dengan kehendaknya sendiri,
inisiatif yang datang dari bawahan sama sekali tidak pernah sekalipun diperhatikan.
– Gaya Kepemimpinan Karismatis Kelebihan
dari gaya kepemimpinan karismatis ini ialah mampu menarik orang. Mereka akan
terpesona dengan cara berbicaranya yang akan membangkitkan semangat. Biasanya
pemimpin dengan memiliki gaya kepribadian ini akan visionaris. Mereka sangat
menyenangi akan perubahan dan adanya tantangan.
Mungkin, kelemahan terbesar dari tipe kepemimpinan model ini dapat di analogikan dengan peribahasa Tong Kosong yang Nyaring Bunyinya. Mereka hanya mampu menarik orang untuk bisa datang kepada mereka. Setelah beberapa lama kemudian, orang – orang yang datang tersebut akan kecewa karena adanya ketidak-konsisten-an. Apa yang telah diucapkan ternyata tidak dilakukan. Ketika diminta dalam pertanggungjawabannya, si pemimpin akan senantiasa memberikan alasan, permintaan maaf, dan janji.
Mungkin, kelemahan terbesar dari tipe kepemimpinan model ini dapat di analogikan dengan peribahasa Tong Kosong yang Nyaring Bunyinya. Mereka hanya mampu menarik orang untuk bisa datang kepada mereka. Setelah beberapa lama kemudian, orang – orang yang datang tersebut akan kecewa karena adanya ketidak-konsisten-an. Apa yang telah diucapkan ternyata tidak dilakukan. Ketika diminta dalam pertanggungjawabannya, si pemimpin akan senantiasa memberikan alasan, permintaan maaf, dan janji.
– Gaya Kepemimpinan Diplomatis Kelebihan
gaya kepemimpinan diplomatis ini terdapat di penempatan perspektifnya. Banyak
orang seringkali selalu melihat dari satu sisi, yaitu pada sisi keuntungan
dirinya. Sisanya, melihat dari sisi keuntungan pada lawannya. Hanya pemimpin
dengan mengguanakan kepribadian putih ini yang hanya bisa melihat kedua sisi,
dengan jelas! Apa yang dapat menguntungkan dirinya, dan juga dapat
menguntungkan lawannya.
Kesabaran dan kepasifan merupakan kelemahan pemimpin dengan menggunakan gaya diplomatis ini. Umumnya, mereka sangat begitu sabar dan sanggup dalam menerima tekanan. Namun kesabarannya ini dapat sangat keterlaluan. Mereka dapat menerima perlakuan yang takmenyengangkan tersebut, tetapi pengikut-pengikutnya tidak menerimanya. Dan seringkali hal inilah yang membuat para pengikutnya akan meninggalkan si pemimpin.
Kesabaran dan kepasifan merupakan kelemahan pemimpin dengan menggunakan gaya diplomatis ini. Umumnya, mereka sangat begitu sabar dan sanggup dalam menerima tekanan. Namun kesabarannya ini dapat sangat keterlaluan. Mereka dapat menerima perlakuan yang takmenyengangkan tersebut, tetapi pengikut-pengikutnya tidak menerimanya. Dan seringkali hal inilah yang membuat para pengikutnya akan meninggalkan si pemimpin.
– Gaya Kepemiminan Moralis Kelebihan
dari gaya kepemimpinan moralis seperti ini ialah pada umumnya Mereka hangat dan
sopan untuk semua orang. Mereka mempunayi empati yang tinggi terhadap segala
permasalahan dari para bawahannya, juga sabar, murah hati Segala bentuk
kebajikan-kebajikan ada dalam diri pemimpin tersebut. Orang – orang akan datang
karena kehangatannya terlepas dari semua kekurangannya. Kelemahan dari
pemimpinan seperti ini ialah emosinya. Rata-rata orang seperti ini sangatlah
tidak stabil, terkadang dapat tampak sedih dan sangat mengerikan, kadang pula
bisa saja sangat begitu menyenangkan dan bersahabat.
– Gaya Kepemimpinan Administratif Gaya
kepemimpinan tipe ini akan terkesan kurang inovatif dan telalu kaku dalam
memandang aturan. Sikapnya sangat konservatif serta kelihatan sekali takut di
dalam mengambil resiko dan mereka cenderung akan mencari aman.
– Gaya kepemimpinan analitis
(Analytical). Dalam gaya kepemimpinan tipe ini, biasanya untuk pembuatan
keputusan didasarkan pada suatu proses analisis, terutama analisis logika
dari setiap informasi yang didapatkan. Gaya ini akan berorientasi pada hasil
dan akan lebih menekankan pada rencana-rencana rinci serta berdimensi jangka
panjang. Kepemimpinan model ini sangatlah mengutamakan logika dengan
menggunakan beberap pendekatan-pendekatan yang masuk akal serta kuantitatif.
– Gaya kemimpinan
asertif (Assertive). Gaya kepemimpinan ini bersifat lebih agresif dan memiliki
perhatian yang sangat begitu besar pada suatu pengendalian personal
dibandingkan dengan gaya kepemimpinan yang lainnya. Pemimpin tipe asertif lebih
terbuka didalam konflik dan kritik. Setiap Pengambilan keputusan muncul dari
suatu proses argumentasi dengan adanya beberapa sudut pandang sehingga muncullah
kesimpulan yang memuaskan.
– Gaya kepemimpinan entrepreneur. Gaya
kepemimpinan ini sangatlah menaruh perhatian pada kekuasaan dan hasil akhir
serta kurang mengutamakan untuk kebutuhan akan kerjasama. Gaya
kepemimpinan model ini biasanya akan selalu mencari pesaing dan akan
menargetkan standar yang tinggi.
– Gaya Kepemimpinan Visioner Kepemimpinan
visioner, merupakan pola kepemimpinan yang ditujukan untuk bisa memberi arti
pada kerja dan usaha yang perlu dijalankan secara bersama-sama oleh para
anggota perusahaan dengan cara memberikan arahan dan makna pada suatu kerja dan
usaha yang dilakukan berdasarkandengan visi yang jelas. Kepemimpinan Visioner
akan memerlukan kompetensi tertentu. Pemimipin visioner setidaknya mesti
mempunya empat kompetensi kunci sebagaimana dikemukakan oleh Burt Nanus (1992),
yaitu
1. Seorang pemimpin visionermesti mempunayi kemampuan
untuk bisa berkomunikasi secara efektif dengan manajer dan karyawan lainnya
dalam organisasi. Hal ini membutuhkan pemimpin untuk menghasilkan “guidance,
encouragement, and motivation.” ;
2. Seorang pemimpin visioner mesti dapat memahami
lingkungan luar dan dapat memiliki kemampuan dalam bereaksi secara tepat atas
segala ancaman dan peluang yang datang. Ini termasuk, yang paling penting,
dapat “relate skillfully” dengan orang-orang kunci yang ada di luar organisasi,
namun memainkan peran yang sangat penting terhadap organisasi (investor, dan
pelanggan). ;
3. Seorang pemimpin mesti bisa memegang peran penting
didalam membentuk dan dapat mempengaruhi segala praktek organisasi, prosedur,
produk dan jasa. Seorang pemimpin dalam hal ini mesti dapat terlibat di dalam
organisasi untuk bisa menghasilkan dan dapat mempertahankan kesempurnaan
pelayanan, sejalan dengan mempersiapkan dan memandu jalan organisasi ke masa
depan (successfully achieved vision). ;
4. Seorang pemimpin visioner mesti bisa mempunyai atau
mengembangkan “ceruk” untuk bisa mengantisipasi apa yang terjadi di masa depan.
Ceruk ini merupakan ssebuah suatu bentuk imajinatif, yang mengacu atas
kemampuan data untuk dapat mengakses segala kebutuhan masa depan konsumen,
teknologi, dan lain sebagainya. Ini termasuk kemampuan dalam mengatur sumber
daya organisasi guna dapat memperiapkan diri menghadapi adanya kemunculan
kebutuhan dan perubahan ini. Dalam era turbulensi lingkungan seperti saat ini,
setiap pemimpin mesti siap dan dituntut mampu dalam melakukan suatu
transformasi terlepas dari gaya kepemimpinan apa yang mereka anut.
Pemimpin mesti mampu dalam mengelola perubahan, termasuk di dalamnya dapat
mengubah budaya organisasi yang tak lagi kondusif dan produktif. Pemimpin mesti
memiliki visi yang tajam, pandai mengelola keragaman dan dapat
mendorong terus suatu proses pembelajaran karena adanya
dinamika suatu perubahan lingkungan serta adanya persaingan yang semakin ketat.
– Gaya Kepemimpinan Situasional kepemimpinan
situasional ialah “a leadership contingency theory that focuses on followers
readiness/maturity”. Inti dari teori kepemimpinan situational ialah bahwa suatu
gaya kepemimpinan seorang pemimpin akan dapat berbeda-beda, tergantung dari seperti
apa tingkat kesiapan para pengikutnya.
Pemahaman fundamen dari teori kepemimpinan situasional ialah mengenai tidak adanya gaya kepemimpinan yang paling terbaik. Kepemimpinan yang efektif ialah bergantung dari relevansi tugas, dan hampir semua pemimpin yang sukses selalu dapat mengadaptasi gaya kepemimpinan yang sangat tepat. Efektivitas kepemimpinan bukan hanya pada soal pengaruh terhadap individu dan kelompok akan tetapi bergantung juga terhadap tugas, pekerjaan atau fungsi yang dibutuhkan secara keseluruhan. Jadi pendekatan pada kepemimpinan situasional itu mesti fokus pada fenomena kepemimpinan di dalam suatu situasi yang unik.
Dari cara pandang ini, seorang pemimpin agar efektif ia mesti mampu dalam menyesuaikan gayanya terhadap tuntutan situasi yang selalu berubah-ubah. Teori kepemimpinan situasional akan bertumpu pada dua konsep yang fundamental yaitu: tingkat kesiapan/kematangan individu atau kelompok sebagai pengikut dan gaya kepemimpinan.
Pemahaman fundamen dari teori kepemimpinan situasional ialah mengenai tidak adanya gaya kepemimpinan yang paling terbaik. Kepemimpinan yang efektif ialah bergantung dari relevansi tugas, dan hampir semua pemimpin yang sukses selalu dapat mengadaptasi gaya kepemimpinan yang sangat tepat. Efektivitas kepemimpinan bukan hanya pada soal pengaruh terhadap individu dan kelompok akan tetapi bergantung juga terhadap tugas, pekerjaan atau fungsi yang dibutuhkan secara keseluruhan. Jadi pendekatan pada kepemimpinan situasional itu mesti fokus pada fenomena kepemimpinan di dalam suatu situasi yang unik.
Dari cara pandang ini, seorang pemimpin agar efektif ia mesti mampu dalam menyesuaikan gayanya terhadap tuntutan situasi yang selalu berubah-ubah. Teori kepemimpinan situasional akan bertumpu pada dua konsep yang fundamental yaitu: tingkat kesiapan/kematangan individu atau kelompok sebagai pengikut dan gaya kepemimpinan.
– Kepemimpinan Militeristik Tipe
pemimpin seperti ini sangatlah mirip dengan tipe pemimpin yang otoriter yang
merupakan tipe pemimpin yang senantiasa bertindak sebagai diktator terhadap
para anggota kelompoknya. Adapun sifat-sifat dari tipe kepemimpinan
militeristik yaitu: (1) lebih banyak dalam menggunakan sistem perintah atau
komando, keras dan sangat begitu otoriter, kaku dan seringkali untuk kurang
bijaksana, (2) menghendaki adanya kepatuhan yang mutlak dari bawahan, (3)
sangat menyenangi suatu formalitas, upacara-upacara ritual dan tanda-tanda kebesaran
yang terlalu berlebihan, (4) menuntut adanya sebuah disiplin yang keras dan
kaku dari para bawahannya, (5) tidak menghendaki adanya saran, usul, sugesti,
dan kritikan-kritikan dari bawahannya, (6) komunikasi hanya dapat berlangsung
searah.
Hubungan
Antara SDA, Organisasi, dan Kepemimpinan
Organisasi
yang sukses akan dipimpin oleh pemimpin yang tidak hanya memiliki pengetahuan,
keterampilan dan kemampuan untuk beroperasi secara efektif tetapi juga memiliki
kemampuan relasional untuk mitra dengan orang lain untuk mewujudkan visi dan
tujuan mereka. Sumber daya manusia adalah salah satu faktor yang
sangat penting bahkan tidak dapat dilepaskan dari sebuah oraganisasi, baik
institusi maupun perusahaan. Kepemimpinan adalah tindakan yang
mengarahkan/mengalokasikan sumber daya untuk menciptakan kesempatan yang
dikehendaki oleh organisasi.
SDM yang dipekerjakan di sebuah organisasi sebagai penggerak untuk
mencapai tujuan organisasi itu. Sumber Daya Manusia merupakan orang
yang bekerja sebagai penggerak suatu oraganisasi, baik instansi maupun
perusahaan dan berfungsi sebagai aset yang harus dilatih dan dikembangkan
kemampuannya. Kemampuan kepemimpinan itu
kesiapan sikap dan perilaku seseorang harus mampu menembus ketidakpastian menjadi peluang.
Kemampuan kepemimpian sesorang juga berandil besar dalam rangka
pengembangan sumber daya manusia yang ada dalam organisasi tersebut.
Keahlian ini juga diajarkan dan dilatih oleh perusahaan atau organisasi kepada para karyawannya agar memiliki tanggung
jawab sehingga dapat ikut mengarahkan dan mengoperasikan perusahaan atau
organisasi sebagai layaknya pemimpin dalam masing-masing bidang pekerjaan
mereka dalam organisasi.
Contoh
Kaitan antara SDM, organisasi dan Kepemimpinan
Contoh seperti
kampus yang memiliki organisasi BEM yang dimana kehadiran BEM dikampus ini merupakan suatu organisasi yang baik untuk seluruh mahasiswa, dalam BEM ini terdapat apresiasi, kreativitas anggotanya, dan masing-masing dari fakultas di kampus memiliki 1 orang ketua sebagai pemimpin mereka. Dalam pemilihan anggota baru BEM, ketua bem ini dibantu oleh staff nya dalam memilih SDM yang berkualitas, anggota-anggota baru ini akan di coaching, agar memiliki tanggung jawab dan dilatih juga menjadi pemimpin dalam masing-masing organisasi.
DAFTAR
PUSTAKA
Munandar, Ashar
Sunyoto. (2001). Psikologi Industri dan Organisasi. Jakarta: Penerbit
Universitas Indonesia (UI-Press)
http://informasiana.com/pengertian-kepemimpinan-gaya-dan-teori-kepemimpinan/#

Tidak ada komentar:
Posting Komentar